jump to navigation

Sejarah Toleransi May 16, 2007

Posted by dirga primawan in kekristenan.
trackback

Toleransi dan Ketidaktoleransian

pada abad Keenambelas di Basel_

menurut  Hans R. Guggisberg

 

oleh B. Dirgaprimawan

Dalam berbicara mengenai toleransi dan ketidaktoleransian di  Basel dari tahun 1540 sampai dengan akhir abad ke-enambelas, Hans R. Guggisberg memfokuskan diri pada tokoh yang bernama Sebastian Castellio. Setelah perpecahannya dengan Calvin, Castellio meninggalkan Jenewa dan kemudian menetap di kota Basel pada musim semi 1545. Ia tinggal di Basel antara tahun 1545 sampai dengan kematiannya pada tahun 1563, kurang lebih 18 tahun. Di sana ia bekerja untuk Johannes Oporinus dalam menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Latin dan Perancis. Ketika mendengar tentang penghukuman mati terhadap Servetus di Jenewa (27 Oktober 1553), ia merasa begitu sedih. Kemudian ia menyiapkan antologi teks kuno dan kontemporernya yang terkenal yang menolak penghukuman mati pada permasalahan religius: De haereticis an sint persequendi.  Buku tersebut dicetak oleh Oporinus. Buku ini diterbitkan pada bulan maret 1554 dan membuka debat yang terkenal mengenai pernyataan apakah orang yang dianggap heretik seharusnya atau tidak seharusnya dihukum mati. Penantang utama Castellio adalah Calvin dan Theodore Beza.

            Dengan De haereticis an sint persequendi,  terbukalah karya kritisisme satu-satunya yang melawan pembunuhan atas para heretik yang ditulis di Basel selama tahun 1554 dan disebarkan   dari sana ke wilayah-wilayah lain. Tidak berapa lama kemudian, beberapa pamflet manuskrip yang mempertahankan/membela Servetus yang ternyata juga disebarluaskan di kota Basel. Pamflet ini berasal dari dari Grisons, dari Italia, dan dari Jerman. Diantaranya,  para pengarangnya adalah Guillaume Postel dan Matteo Gribaldi. Pada tahun yang sama yakni 1554, Curione berusaha untuk mempublikasikan  De amplitudine beati regni Dei di Basel. Buku tersebut ditolak, tetapi dia kemudian menemukan seorang pencetak yang mau melakukannya, yakni di  Poschiavo (Valtellina) yang menerbitkannya tanpa penundaan. Pada tahun 1554, kota Basel menjadi saksi dari suatu kampanye besar untuk toleransi religius. Dalam kampanye ini, Calvin dikritisi tidak hanya karena mengabaikan terjadinya eksekusi terhadap Servetus, tapi juga karena doktrin predestinasinya.

            Karya  Castellio berikutnya dalam melawan pembunuhan terhadap para heretik adalah Contra Libellum Calvini. Tulisan ini dibuat pada musim panas dan gugur pada tahun 1554 sebagai suatu tanggapan pada Calvin’s Defensio orthodoxae fidei dimana para reformer Jenewa telah berusaha untuk menerangkan mengapa mereka tidak beroposisi terhadap eksekusi atas Servetus dan mengapa mereka berpikir bahwa penghukuman dengan ancaman hukuman mati  untuk para heretik dibenarkan. Sebagaimana diketahui oleh setiap orang, Contra libellum Calvini tidak pernah dicetak selama masa hidup Castellio. Edisi pertamanya diterbitkan di Holland pada tahun 1612. Buku ini kemudian menjadi pegangan para Remonstrans Belanda sebagai senjata dalam usaha mereka menentang ortodoksi Calvinis. Tidak ada bukti bahwa penerbitan Contra libellum Calvini telah ditahan/ditekan di Balse. Orang boleh mengasumsikan bahwa Castellio sendiri tidak pernah berusaha untuk mencetak Contra libellum Calvini di Basel. Sementara ia menuliskannya, tulisan Castellio tentang komentar terhadap Roma 9 telah ditahan dan buku Curione’s De amplitudine telah ditolak oleh lembaga penyensoran.  Castellio tidak dapat berharap untuk sukses dengan karyanya yang baru tersebut. Meskipun kritisisme terhadap Calvin masih tersebar luas di Basel, pemerintah kota tampaknya  cenderung membiarkan wacana itu begitu terbuka. Antistes Simon Sulzer, orang yang berwenang dalam lembaga penyensoran kota Basel sendiri yang jelas bukan salah seorang teman Calvin merasa risi ketika ia menerima surat-surat baik dari Jenewa maupun Zurich yang menekankan bahwa dia tidak menaruh cukup perhatian pada apa yang sedang terjadi dengan gerejanya sendiri di Basel.

            Pamlet peperangan berlanjut. Pada bulan September 1554, Theodore Beza menerbitkan  karyanya yang terkenal Anti-Bellius di bawah judul De haereticis a civili magistratu puniendis, adversus Martini Bellii farraginem et novorum Academicorum sectam. Castellio memukul mundur dengan desertasi De haereticis a civili magistratu non puniendis. Karya ini belum terselesaikan sampai musim semi th 1557. Karya ini tetap belum diterbikan juga (sampai th 1971). Serangan baru dari Jenewa dimulai lagi  pada akhir tahun 1556. Perdebatan masih berkutat pada pertanyaan  tentang bagaimana berurusan dengan para heretik, namun permasalahan lain seperti doktrin predestinasi dan terjemahan Kitab Suci oleh Castellio mulai beranjak menjadi dominan dalam pembicaraan. Kedua terjemahan itu  dituduh sebagai karya yang heretik. Dikatakan bahwa terjemahan latin Castellio tersebut memuat banyak kata yang berasal dari waktu kuno/klasik, sementara terjemahan Perancis-nya dinilai memiliki  gaya bahasa yang  terlalu vulgar. Keberatan terhadap Kitab Suci bahasa Latin Castellio  diringkas oleh Beza pada pembukaan terjemahan latinnya pada Perjanjian Baru (1556). Karena kritik-kritik dari Jenewa juga memuat    cercaan personal, castellio ingin mempertahankan diri lagi dan ingin menjelaskan maksud pedagogi dan philologinya. Sementara itu, serangan sekali lagi datang dari Geneva dan Lausanne. Tanpa didesak oleh Calvin, lembaga kewenangan sensor di Basel pada musim semi tahun 1557 melarang penerbitan karya Castellio yang berjudul Defensio suarum translation Bibliorum. Alasannya   tidak cukup jelas, namun tampaknya, lembaga tersebut lebih memikirkan pertimbangan tidak hanya  teologis tapi juga politis. Bersama dengan Zurich dan Schaffhausen, pemerintah Basel pada saat itu diikutsertakan dalam usaha mediasi antara Berne dan Jenewa yang mana ingin membawa pada pembaharuan  atas Combourgeoisie antara dua republik pada tahun 1558. Lebih lagi pada saat itu, pihak oposisi anti teologi Jenewa meledak di Berne dan di wilayah kekuasaan Berneseatas Pays de Vaud. Adalah mungkin bahwa pemerintah Basel tidak ingin memicu  permasalahan pada masa itu.

            Serangan terhadap Castellio muncul kembali  pada tahun 1558. Calvin menerbitkan Calumniae nebulonis cuiusdam de occulta Dei providentia responsio dimana dia menanggapi risalat tanpa nama kepada Castellio. Castellio menanggapi dengan  Harpago sive defensio yang belum pernah dicetak tampai tahun 1578. kemudian Beza muncul kembali dengan Ad sycophantarum quorundam calumnias…..responsio. Di sini, Castellio kembali dicap sebagai penghianat reformasi. Tuduhan dari Beza memuncak ketika meminta kota Basel dan universitasnya untuk menyingkirkan Castellio dan tanpa penundaan. Dengan ini, tujuan dari serangan orang-orang Jenewa menjadi sangat jelas: kritik yang menyusahkan dan membahayakan harus dihilangkan dan badan kewenangan Basel haruslah membantu untuk dapat melakukannya.

            Namun Castellio tidaklah lenyap. Ia tidak menulis suatu pembelaan diri yang baru melainkan memberi semacam tambahan pada Harpago dimana, setelah  menyatakan pandangan-pandangannya dengan ketajamannya sekali lagi, ia meminta untuk toleransi atas namanya sendiri dan atas persoalan pribadinya:

      Aku memintamu atas nama darah Kristus, biarkanlah aku berada dalam kedamaian dan berhentilah menganiaya aku. Berilah aku kemerdekaan imanku dan kemerdekaan untuk mengakuinya, sebagaimana kamu harapkan bahwa aku memberimu kemerdekaanmu sendiri. Janganlah selalu menghakimi mereka yang tidak setuju denganmu sebagai orang yang ingkar agama atau penghujat. Dalam hal yang utama dari agama, aku tidak membedakannya darimu. Aku ingin dengan keberanian untuk melayani agama yang sama yang kamu layani juga. Aku tidak setuju denganmu hanya dalam beberapa permasalahan intepretasi, dan banyak orang salah membagikan ketidaksetujuan ini denganku. Semua dari kita berbuat keliru ……namun biarkanlah kita saling memperlakukan satu sama lain dengan baik. Kita semua tahu (kita sehrusnya tahu) tugas kita akan cinta kasih  Kristiani. Biarkanlah kita menyelesaikan tugas ini dan dengan melakukannya, kita  mengurangi musuh-musuh kita  dan sampai pada ketenangan.

     

Tuduhan berikutnya datang dari Jenewa pada tahun 1560 dan ditujukan pada terjemahan Kitab Suci Castellio sekali lagi. Dalam pengantar pada terjemahan Perancisnya akan Perjanjian Baru, Calvin dan Beza menyebut Castellio sebagai  instrument choisi de Satan yang misi jahatnya adalah untuk membingungkan orang yang punya kepercayaan dan untuk menyenangkan bagi semua penghujat/heretik. Pada point ini, lembaga kewenangan Basel mengjiinkannya untuk menerbitkan Defensio suarum translationum Bibliorum yang mana lembaga tersebut telah menahannya tiga tahun lebih awal. Itu dikeluarkan pada tahun 1562. Meskipun buku tersebut tidak lagi aktual karena sebagian itu merupakan reaksi terhadap kritisisme yang diucapkan oleh Beza dalam konteks dengan terjemahan latinnya sendiri atas Perjanijan baru yang telah diterbitkan pada th 1557, namun buku ini telah membangkitkan kemarahan  para teolog Jenewa. 

            Para pemimpin gereja kota Jenewa tidak pernah memaafkan lembaga kewenangan Basel atas diijinkannya penerbitan karya Castellio yang berjudul Defensio suarum translationum. Sekali lagi Beza menulis traktat anti-Castellio, pada saat itu dengan judul Responsio ad defensiones S. Castellionis (1563). Namun karya Beza ini pada tahun 1563 gagal lagi untuk mencapai sukses yang begitu cepat.

            Pada Bulan November tahun tersebut, Adam von Bodenstein—putra dari Karlstadt, dokter dan warga kota Basel, pengikut Paracelsus—menulis sebuah surat untuk konsili Basel dari Strassburg dimana ia tinggal sementera pada waktu itu. Surat ini memuat banyak kutipan dari Beza Responsio dan pernyataan cukup panjang atas Bodenstein yang meringkaskan dan menguatkan tuduhan dari para teolog Jenewa dan memberi mereka dukungan lokal yang selalu mereka butuhkan.  Tuduhan akan penghujatan dan godaan pada kaum muda didasarkan pada indikasi tambahan berikut ini:

1.      Selain menulis opini-opini heretik tentang poligami yang dibenarkan, Castellio juga  telah menerjemahkan Dialogi triginta karya Bernardino Ochino.

2.      Dengan publikasi terhadap buku yang bermasalah tersebut (dicetak oleh Perna), Castellio secara serius telah merusak reputasi Basel di semua penduduk dan negara-negara Protestan lainnya.

Sekarang roda penganiayaan mulai berputar.  Pertemuan para teolog tidak diadakan lagi. Diskusi teologis tidak lagi diinginkan. Castellio memperoleh salinan dari surat Bodenstein untuk konsili dalam versi asli bahasa Jerman. Ia disuruh untuk menjawab tuduhan tersebut. Ini ia lakukan dalam apologi yang ditulis dalam bahasa latin, tertanggal 24 November. Di sini ia meringkaskan lagi apa yang menjadi pendapat-pendapat teologis dan moralnya, dan secara sistematis menyangkal tuduhan-tuduhan yang ditujukan untuk melawannya. Berpijak pada terjemahan Ochino tentang Dialogi triginta, ia menunjuk pada kenyataan bahwa otoritas Basel tidak melarang publikasi tersebut.

            Konsekuensi dari adanya tuduhan-tuduhan Bodenstein terhadap Castellio tetaplah tidak diketahui.  Kita tidak tahu seandainya dan kapan pemeriksaan pengadilan dimulai dan bagaimana itu dilakukan. Yang kita tahu, di lain pihak, bahwa inisiatif Bodenstein mempunyai konsekuensi langsung maupun tidak langsung di Zurich; ketika publikasi dari Dialogi triginta menjadi diketahui di sana, Ochino dengan segera dicopot dari jabatannya sebagai pastor/pendeta  dari komunitas pengungsi Italia. Jadi ia pergi ke Polandia dan kemudian ke Moravia dimana ia meninggal di sana pada th 1564. Selama “krisis th 1563” Castellio tampaknya sudah membayangkan imigrasinya ke Poland juga. Tetapi sebelum ia dapat merealisasikannya, ia keburu meninggal di Basel pada tgl 29 Desember 1563.

            Jadi kita tetap tidak tahu tentang apa yang mungkin terjadi pada dirinya, apakah ia telah dijatuhi hukuman atas penghujatan atau tidak, apakah ia telah dipaksa untuk berimgrasi seperti halnya Ochino atau apakah otoritas Basel telah sekali lagi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Dengan lain kata, kita tidak tahu sejauh mana toleransi dan ketidaktoleransian pada akhirnya berjalan dalam kasus Castellio.

Namun, juga tidaklah dapat disangkal bahwa di abad keenambelas republik kota Basel secara umum lebih merupakan tempat yang lebih toleran daripada pusat-pusat daerah  reformasi lainnya. Namun Basel tidak mempunyai suatu hukum yang memberikan toleransi yang sama persis yang dapat dibandingkan dengan Warsaw Confederation ataupun hukum-hukum toleransi Transsylvania. Orang-orang seperti Castellio memang dapat menemukan tempat perlindungan di Basel, tetapi mereka tidak pernah sungguh-sungguh aman. Mereka tidak pernah sungguh-sungguh merdeka dari tekanan, diskriminasi dan kecurigaan. Bahaya bahwa penganiayaan dapat tiba-tiba muncul tidak pernah berhenti. Toleransi di abad keenambelas di Basel pada kenyataannya tidak pernah tak terbatas.

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: