jump to navigation

sosok seorang ibu May 15, 2007

Posted by dirga primawan in renungan.
trackback

Bercermin dari Sosok Panggilan Seorang Ibu

                     oleh B.Dirgaprimawan

Selama ini, pribadi yang begitu mengesanku adalah ibuku. Aku kagum padanya. Di usianya yang kini melewati paruh baya sebagai seorang guru, ia tidak pernah berhenti belajar untuk mengembangkan metode pengajarannya.  Selain itu, ia masih saja aktif dalam kegiatan di kampung. Walaupun demikian,  perhatian pada keluarga tidaklah terabaikan.

Suatu kali,  Ibu pernah bercerita padaku. Dalam perjalanan menuju ke sekolah, ibu selalu membawa parutan kelapa yang dibuat di rumah  untuk dijual  di pasar. Selama di rumah pula, ibu membantu nenek untuk membuat parutan kelapa. Meskipun disibukkan dengan usaha membantu ekonomi keluarga, ibu tidak pernah meninggalkan  kesempatan belajar. Bagi ibu,  berusaha sungguh-sungguh  adalah panggilan setiap manusia. Karenanya, yang amat menginsiprasikanku adalah semangatnya yang tinggi untuk maju. Ibu amat menghargai kesempatan untuk dapat disekolahkan karena sangat jarang perempuan di tempat tinggal nenekku yang bisa memperoleh kesempatan untuk sekolah.

Dalam pandanganku,  perempuan selalu dapat maju, dan tidak kalah dengan perjuangan para kaum pria bila memang terwujud kesamaan kesempatan yang didapat. Ibu pun tidak pernah menganggap perjuangannya sebagai suatu usaha yang hanya berhenti pada saat itu saja. Bahkan kini, ketika telah mengabdikan diri menjadi guru selama lebih dari 20  tahun, ibu selalu mempunyai cara yang unik untuk mengembangkan metode belajar yang disukai murid-muridnya. Di Sekolah Dasar, aku pernah diajar oleh ibuku. Ia mengajar ilmu pengetahuan alam dan senang sekali untuk mengajak para murid mengadakan praktek lapangan. Ketika belajar tentang lup, kami diajak ke lapangan sekolah untuk mempraktekkan kemampuan lensa yang membentuk satu fokus dari sinar matahari sehingga dapat membakar kertas. Kami begitu senang sekali dengan adanya praktek lapangan. Apalagi sering sekali ada tanya jawab, seperti kuis kecil di kelas yang memancing para murid untuk saling berlomba. Rasanya pelajaran ilmu pengetahuan alam menjadi begitu indah dan menyenangkan. Aku benar-benar kagum sampai sekarang.

Tidak hanya itu. Aku belajar juga tentang rasa empati yang dimiliki ibu terhadap sanak saudara dan masyarakat sekitar. Ketika ada saudara yang terkena musibah, ibu selalu datang membantu. Kerabat keluarga pun merasa dekat dengan ibu. Ternyata kekuatan yang dipancarkan ibu adalah perhatian. Perhatian terhadap saudara menjadi suatu keutamaan yang hidup dalam pribadi ibu dan mewarnai sikapnya. Bahkan sesibuk apapun yang sedang dikerjakan ibu, ibu rela meninggalkannya untuk datang membantu kerabat keluarga. Aku yang masih kecil secara perlahan diajar nilai-nilai hidup lewat tindakan nyata ibu. Meskipun demikian, ibu mengakui bahwa ia hanyalah manusia. Ia melakukannya hanya karena merasa terpanggil untuk itu.

Bagiku, apa yang dilakukan ibu sungguh luar biasa. Secara umum, aku belajar dari sikap ibu yang lebih memilih menghargai setiap waktu yang diberikan Tuhan untuk dibagikan demi kemajuan orang lain pula. Sebagai mantan murid yang pernah diajarnya, kami selalu ditantang untuk tidak mudah menyerah  ketika menemui persoalan yang sukar dalam pelajaran. Malahan ibu sering mengajari membuat strategi-strategi belajar yang menyenangkan. Pengalaman yang kurasakan dengan ibu, ternyata telah membuka cakrawalaku bahwa masing-masing orang diberi kemerdekaan oleh Tuhan untuk menentukan sikap terhadap hidup yang dijalaninya. Selain itu, yang menjadi keyakinan ibu adalah bahwa hidup yang ada sekarang pada dasarnya terletak di tangan kita dan kita mendapat  kepercayaan dari Tuhan untuk mengolahnya. Dari  anugrah hidup ini, ternyata ibu merasakan kemerdekaan untuk memilih, dan ibu memilih untuk memaknainya dengan membagikan cinta dan perhatian pada situasi di sekitarnya. Kita pun sesungguhnya dipanggil ke arah yang serupa.

            Setiap ibu, terlebih kaum perempuan ternyata ditempatkan oleh Tuhan sebagai pendidik yang paling utama dan pertama bagi setiap manusia yang baru lahir. Ibu adalah cerminan kasih sehingga ia menggunakan kemerdekaannya untuk menjadi sarana Tuhan dalam membangun kehidupan manusia secara lebih baik. Karena memiliki kemerdekaan tersebut, maka setiap ibu (kaum perempuan) pun juga dianugerahi tanggung jawab terhadap kemerdekaannya tersebut. Tanggung jawab selalu terkait dengan pilihan yang dibuat dan diambil. Oleh karenanya, kita sesungguhnya belajar mencintai dari peran seorang ibu yang telah mencintai kita lebih dulu.

Atas dasar cinta, setiap peran yang dimainkan ibu mempunyai dampak yang luar biasa. Karenanya, atas dasar cinta pula seharusnya di dunia ini diwujudkan pula oleh tiap manusia untuk membuka diri dan sadar terhadap peran kaum perempuan di dunia ini.  Dengan begitu, kaum perempuan tidak lagi merasa dibatasi oleh kaum pria melainkan bahwa kaum pria menjadi partner dari kaum perempuan dalam memelihara dunia ini.


 

 

 

 

 

Comments»

1. hileud - May 26, 2007

Hi salam kenal, senang membaca tulisanya

Saya ibu dari dua anak

Salam

2. dirga primawan - May 27, 2007

salam kenal juga. Jujur, ibu saya adalah seorang pribadi yang amat banyak memberi inspirasi bagi saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: