jump to navigation

(apakah agama menghambat kemajuan sains dan teknologi?)atheisme-part 2 May 11, 2007

Posted by dirga primawan in atheisme.
trackback

Apakah agama menghambat kemajuan sains dan teknologi?

Tidak jarang kita mendengar perdebatan seru antara sains dan agama. Para saintis dengan temuan-temuan ilmiahnya semakin membuka cakrawala baru bagi manusia dalam memahami realitas dunia ini yang sungguh berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh agama. Maka muncullah apa yang dinamakan atheisme saintifik, ketika orang lebih mempercayai temuan-temuan dalam sains dan mempertentangkannya dengan ajaran agama, dan kemudian menganggap agama tidak lagi relevan bagi kehidupan manusia.

Atheisme saintifik adalah sebuah paham yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat diperdamaikan dengan agama. Ajaran ini memusatkan diri pada data dan fakta yang bersifat inderawi, yang berada alam ruang dan waktu. jadi yang real adalah yang dapat ditangkap secara inderawi, berupa fakta. Sedangkan agama dianggap tidak berkompeten dalam wilayah tersebut.

misalnya saja:

Berdasar ilmu pengetahuan diketahui bahwa bumi ini terbentuk melalui proses yang sangat panjang yang membutuhkan waktu bermilyar-milyar tahun. Padahal dalam Kitab Suci dinyatakan bahwa bumi beserta isinya diciptakan oleh Tuhan dalam waktu 7 hari.

Berdasar ilmu pengetahuan diketahui pula bahwa alam semesta ini begitu luas. Manusia hanya seperti debu saja di alam semesta. Manusia itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan alam semesta yang begitu luas ini. Padahal dalam Kitab Suci dinyatakan bahwa manusia itu begitu penting di hadapan Allah

Melihat kedua contoh tersebut, kebanyakan orang cenderung berkesimpulan bahwa agama itu menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi karena apa yang dinyatakan/ditulis dalam Kitab Suci jauh dari realitas inderawi yang dijumpai manusia. Karenanya, orang yang mengikuti atheisme saintifik cenderung menolak agama. Agama dipandang tidak relevan lagi dan bisa dibuang.

Tanggapan kritisku:

Apa dinyatakan bahwa agama itu menjadi penghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pernyataan tersebut adalah semu. Hendaknya ilmu pengetahuan jangan membuat kesimpulan di luar bidangnya dan di luar kompetensinya. Begitu pula agama jangan sesumbar untuk membuat kesimpulannya sendiri.

Bidang ilmu pengetahuah adalah pada data dan fakta yang teramati secara inderawi, yang berada dalam ruang dan waktu. Sedangkan bidang agama adalah memberi arti/pemaknaan religius terhadap data atau fakta tersebut.

Meskipun demikian, patut diakui bahwa ilmu pengetahuan juga telah memberi masukan positif terhadap agama, yakni membantu menempatkan Kitab Suci pada posisi yang tepat. Agama perlu membedakan mana yang merupakan isi/pesan Kitab Suci dengan cara penyampaian. Hal ini untuk menghindari terjadinya penafsiran yang harafiah belaka.

Terhadap kedua contoh di atas, dapat diberi tanggapan sebagai berikut:

Pada contoh I, sebetulnya yang diungkapkan dalam Kitab Suci bukanlah bahasa ilmiah, melainkan bahasa sastra. Angka 7 tersebut menunjuk pada sesuatu yang sempurna

Pada contoh II, sebenarnya ada 3 kategori untuk menyatakan ukuran: sebesar-besarnya, sekecil-kecilnya, serumit-rumitnya. Manusia perlu dilihat dalam kategori “serumit-rumitnya”. Dalam kategori tersebut, manusia tetap dipandang sebagai mahluk yang khas, berharga.

Comments»

1. ANdiny sari - June 4, 2007

Ass.
Menurut saya, saya tidak setuju dengan pernyataan yang mengatakan bahwa agama menghambat sains dan teknologi,,bila kita bisa cerna bahwa sesungguhnya kita ini sudah diperbudak oleh kemajuan teknologi,
dan seharusnya pula apa pun yang kita lakukan harus di dasari oleh iman kita dan taqwa kita sebagaimana seorang muslim lazimnya. Apa gunanya kita belajar agama….???semua yang ada di muka bumi ini hanya milik ALLAH SWT, tidak bisa ada yang pungkiri itu,,,

tetapi yang sanat disayangkan para sains2 kita,,telah terpedaya oleh kemajuan teknologi, mereka sudah luput dari keimanan mereka sehingga bisa dikatakan mereka belum percaya AKAN KEKUASAAN ALLAH..

mOhon maaf bila pendapat saya masih terlalu kaku!!

2. dirga primawan - June 5, 2007

thanks buat komentarnya yach! Meski demikian, perlu diakui pula bahwa memang ada para saintis yang kemudian menjadi ateis. Pada abad 18, ada seorang saintis bernama La Metrie yang ketika ditanya oleh Napoleon, apakah ia percaya tentang adanya Tuhan, menjawab bahwa ia tidak butuh gagasan (Tuhan) tersebut. Memang tidak semua saintis otomatis adalah seorang ateis pula. Masih ada banyak para saintis dewasa ini yang juga hidup berimannya kuat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: