jump to navigation

masih relevankah agama bagi manusia? May 4, 2007

Posted by dirga primawan in sosiologi agama.
trackback

oleh Bernadus Dirgaprimawan

Apakah agama dapat diandalkan untuk mengatasi sekian banyak permasalahan manusia pada zaman ini, ataukah nantinya agama itu akan hilang dengan sendirinya dan tidak relevan lagi bagi kehidupan manusia?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya berangkat dari pandangan bahwa munculnya resistensi terhadap agama tidak jarang dipicu oleh kenyataan bahwa agama tampak sebagai salah satu sumber konflik antar manusia (para pemeluk agama). Terhadap kenyataan konflik tersebut,  seolah-olah agama lalu dipandang sebagai sesuatu yang tidak relevan lagi karena dianggap tidak mampu  menyelesaikan permasalahan manusia dan bahkan justru menimbulkan permasalahan dan penderitaan bagi manusia. Dalam pandangan yang semacam ini, tentu saja tidak dapat dibenarkan bahwa konflik tersebut disebabkan pertama-tama oleh ajaran agama. Alasannya adalah bahwa pada dasarnya setiap agama itu selalu terkait dengan moralitas. [1] Dalam setiap agama itu terkandung ajaran tentang perdamaian dan hidup yang  baik sehingga dengan sendirinya isi ajaran tersebut menegasi potensi untuk secara aktif menciptakan konflik dengan manusia lain.

Yang menjadi permasalahan adalah bahwa agama sebagai suatu fenomena itu terkait dengan banyak dimensi, termasuk di dalamnya dimensi sosial. Para pemikir sosial seperti Durkheim, Marx, dan Weber  pun menyiratkan bahwa agama secara esensial lebih merupakan sesuatu yang beraspek sosial daripada sesuatu yang murni individual.[2]  Karenanya, dapat dikatakan bahwa ada kaitan yang tak terhindarkan antara agama sebagai salah satu fenomena sosial dengan banyak aspek kehidupan masyarakat yang lain. Agama pun dapat dikatakan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh konteks masyrakat dimana agama tersebut berkembang. Pengaruh-pengaruh tersebut lalu dapat terbawa dalam tradisi dan tidak jarang pula ditemukan bahwa isi intepretasi ajaran agama sudah mengandung tendensi kepentingan politik tertentu.  Lebih lanjut, Durkheim menggambarkan bahwa sistem kepercayaan atau ritual keagamaan selalu mengekspresikan kebutuhan masyarakat. [3] Dalam hal ini, Durkheim juga melihat bahwa penghayatan afektif dan emosional individu sangatlah penting dalam agama. Individu kemudian secara bersama-sama membentuk ikatan emosional yang kuat terhadap agamanya.  Agama lalu dilihat mempunyai aspek fungsional yakni mempersatukan pengikutnya dalam satu komunitas moral tertentu.[4] Saya menangkap bahwa ikatan emosional yang semacam ini mudah dibelokkan ke arah kepentingan politik dan ekonomi yang dapat memunculkan perselisihan antar kelompok yang berbeda. Dalam kenyataan dewasa ini, tidak jarang ditemukan pula simbol-simbol agama yang dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kepentingan politik. Bahkan dalam kasus fenomena kerusuhan konflik agama di Indonesia, seringkali ditemukan adanya pertentangan kepentingan politik dan ekonomi yang melatarbelakangi.

Berdasar sudut pandang di atas, saya berkesimpulan bahwa agama jangan ditempatkan sebagai satu-satunya sumber  semua solusi atas permasalahan manusia karena agama tidak lepas dari berbagai ragam konteks lingkungan sosial yang membentuknya. Agama hanyalah salah satu elemen saja. Apabila orang terlalu menekankan agama sebagai sumber jawaban utama atas semua permasalahan manusia, maka yang akan dijumpainya adalah kekecewaaan. Justru yang diperlukan sebetulnya adalah sikap kritis terhadap agama. Dalam arti bahwa orang perlu menjadi jeli terhadap konflik yang mengatasnamakan agama. Orang perlu memandang bahwa ada kemungkinan ditemukan adanya kepentingan lain yang tersembunyi di balik nama agama, seperti soal kepentingan politik ataupun ekonomi. Namun hal ini tidak berarti bahwa manusia tidak perlu agama. Secara eksistensial, manusia secara bawaan mempunyai keinginan untuk mencari arti dari realitas dan kebanyakan manusia seturut pengalamannya menangkap dimensi supernatural di balik apa yang empiris.[5] Hal ini dijumpai dalam agama. Karenanya, agama masih tetaplah diperlukan.




[1] Malcolm B. Hamilton, The Sociology of Religion: The Theoretical and Comparative Perspectives,  London: Routledge,  1995, page 19.

[2] Malcolm B. Hamilton, Ibid., page 218.

[3] L. Pals, Daniel, Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama (terjemahan), Yogyakarta: IRSiSod, 2003, hal. 163.

[4] Malcolm B. Hamilton, Ibid., page. 17.

[5] Karlina Supelli, “Masihkah Agama Diperuntukkan bagi Kehidupan?” dalam BASIS Mei-Juni 2002, Yogkarta: Kanisius, 2002, hal. 20.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: