jump to navigation

kritik Karl Marx thd AGAMA May 4, 2007

Posted by dirga primawan in sosiologi agama.
trackback

Nama  : Bernadus Dirgaprimawan

Tugas  : Paper Sosiologi Agama

Rabu, 26 Oktober 2005

 

Kritik Agama Karl Marx:

Dari Kritik Agama menuju  Kritik Masyarakat

 

Pengantar

            Bagi Karl Marx, kritik agama menjadi suatu pintu pembuka untuk masuk pada kritik masyarakat karena kritik agama adalah juga kritik terhadap masyarakat yang memproduksi agama. Agama tidak lain adalah  produk dari masyarakat kelas dan merupakan ekpsresi dari kepentingan kelas.[1] Dalam hal ini, agama  dijadikan alat untuk memanipulasi dan menindas terhadap kelas bawah dalam masyarakat. Dengan penindasan yang terjadi, agama lalu menjadi tempat untuk mengharapkan penghiburan akan dunia yang mendatang. Dengan kata lain, agama membuat manusia menjadi  teraleniasi dari dirinya sendiri. Dalam memahami keberadaan dan pengaruh agama terhadap manusia tersebut, Marx mendapatkan inspirasi pemikirannya dari  pandangan tokoh yang bernama Feuerbach. Pada tahun 1841,  terbit suatu  karya Feuerbach yang berjudul Das Wesen des Christentums (Hakikat Agama Kristiani). Buku ini membuka pemikiran Marx dan sungguh menarik perhatiannya. Oleh karenanya, sebelum masuk pada pemikiran Marx tentang kritik agama yang kemudian berkembang ke kritik masyarakat, akan dilihat terlebih dahulu kritik agama Feuerbach.

 

Kritik Agama Feuerbach

Feuerbach memandang bahwa  bukan Tuhan yang menciptakan manusia tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama merupakan proyeksi hakikat manusia dan dengan demikian agama mengungkapkan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Feuerbach melihat pula bahwa hakikat Allah ini tidak lain daripada hakikat manusia itu sendiri yang sudah dibersihkan dari macam-macam keterbatasan atau ciri individualnya dan kemudian dianggap sebagai sebuah kenyataan otonom yang berdiri di luar manusia.[2] Dengan kata lain, Allah adalah hasil proyeksi diri manusia. Feuerbach menunjukkan bahwa karakteristik dari Allah itu adalah tidak lain daripada karakteristik manusia yang diproyeksikan melebihi manusia ke dalam dunia fantastis dimana di dalam bentuk yang ditinggikan dan dilebih-lebihkan tersebut, hasil proyeksi itu   dipandang akan memimpin pada eksistensi manusia dan mengontrol manusia lewat perintah-perintahnya.[3]

Manusia lalu menganggap bahwa hasil proyeksinya tersebut adalah sesuatu yang lain dari dirinya sendiri. Malahan kemudian manusia begitu terpesona dan merasakan bahwa hasil proyeksinya ini menghadapi dirinya sebagai objek sehingga manusia menempatkan dirinya lebih hina daripada hasil proyeksinya sendiri. Manusia justru mengharapkan bahwa ia akan mendapat berkah dari Allah yang tak lain daripada hasil proyeksinya sendiri.  Dengan kondisi semacam ini, manusia malah menjadi terasing dari dirinya sendiri, dari potensi-potensinya. Lebih lagi, Feurbach melihat bahwa dengan agama, manusia lalu menjadi egois karena daripada mengembangkan potensi persahabatan dan cinta kasih, manusia justru mengasingkannya pada cinta kasih Ilahi.[4] Agama menjadi proyeksi diri manusia dan karena itulah manusia mengalami keterasingan. Feurbach lalu menyimpulkan bahwa untuk mengakhiri keterasingan manusia, agama harus ditiadakan.

 

Arti Penting Kritik Agama bagi Marx

Kritik agama Feuerbach ternyata membuka cakrawala bagi Marx. Berdasar pemikirannya Feuerbach, Marx menambahkan bahwa orang kristiani mempercayai bahwa Allah itu menciptakan manusia secitra dengan-Nya. Padahal yang menjadi kebenaran bagi Marx adalah bahwa manusia menciptakan Tuhan sesuai dengan citranya. Kekuatan dan kemampuan manusia lalu diproyeksikan ke dalam Tuhan yang dimunculkan sebagai yang Mahakuasa dan Mahasempurna. [5]

            Lebih lanjut, menurut Marx, agama adalah universal ground of consolation dan sebagai candu rakyat. Dalam pengertian ini, termuat suatu implikasi bahwa apapun penghiburan yang dibawa oleh agama bagi mereka yang menderita dan tertindas adalah merupakan suatu penghiburan yang semu dan hanya memberi kelegaan sementara. Agama tidak menghasilkan solusi yang nyata dan dalam kenyataannya, justru cenderung merintangi berbagai solusi nyata dengan membuat penderitaan dan penindasan menjadi dapat ditanggung. Solusi nyata yang dimaksud di sini adalah terkait dengan pengusahaan peningkatan kesejahteraan secara material. Agama ternyata tidak mampu mengarah pada hal tersebut. Agama justru membiarkan kondisi yang sudah ada, meskipun orang sedang mengalami penderitaan.  Agama mengajak orang hanya berpasrah dengan keadaan daripada mengusahakan barang-barang yang dapat  memperbaiki kondisi hidup.[6] Dalam hal ini, agama cenderung mengabaikan usaha konkrit manusiawi untuk memperjuangkan taraf hidupnya lewat barang-barang duniawi. Agama malah menyarankan untuk tidak menjadi lekat dengan barang-barang duniawi dan mengajak orang untuk hanya berpikir mengenai hal-hal surgawi sehingga membuat orang melupakan penderitaan material yang sedang dialami. Agama mengajarkan orang untuk menerima apa adanya termasuk betapa kecilnya pendapatan yang ia peroleh. Dengan ini semua, secara tidak langsung agama telah membiarkan orang untuk tetap pada kondisi materialnya dan menerima secara pasrah apa yang ia terima walaupun ia tengah mengalami penderitaan secara material. Agama mengajak orang untuk berani menanggungnya karena sikap menanggung itu sendiri dipandang sebagai keutamaan.

            Marx juga mengatakan agama menjadi semacam ekspresi atas protes terhadap penindasan dan penderitaan real. Marx menulis: “penderitaan agama adalah pada saat yang sama merupakan ekspresi atas penderitaan yang real dan suatu protes terhadap penderitaan yang real. Agama adalah keluh kesah mahluk yang tertindas, hati dari suatu dunia yang tak memiliki hati, sebagaimana juga merupakan jiwa dari suatu keadaan yang tidak memiliki jiwa.”[7]

            Selain itu, dengan pandangan bahwa agama mampu memberi penghiburan dan membuat orang berpasrah, maka agama justru dapat dimanfaatkan oleh kelas atas. Kelas atas justru dapat semakin mengeksploitasi kelas bawah dengan melihat bahwa agama membuat kelas bawah untuk tetap puas dengan penghasilannya. Terlebih lagi, agama menawarkan suatu kompensasi atas penderitaan hidup sekarang ini pada suatu kehidupan yang akan datang sehingga malah justru membiarkan ketidakadilan berlangsung terus menerus. Dengan demikian, kritik agama berarti menyingkirkan ilusi-ilusi dimana manusia mencari rasa nyaman di situ di tengah siatuasi tertindas yang ia alami. Kritik agama justru akan membuat mereka membuka mata terhadap kenyataan diri mereka, menghadapinya sehingga akan berusaha berhenti  dari segala bentuk ketertindasannya. Mereka (kelas bawah)  tidak lagi mau terbuai dengan ide-ide tentang hidup yang bahagia kelak sesudah mati tetapi akan kemudian berusaha mewujudkannya di dunia ini dengan mengubah masyarakat dan diri mereka sendiri. Dengan kata lain, kritik agama menjadi pembuka kesadaran dari kelas bawah bahwa diri mereka perlu bangkit maju untuk memperbaiki kondisi hidup mereka secara real. Agama perlu ditinggalkan supaya orang dapat merdeka.

 

Dari Kritik Agama ke Kritik Masyarakat

Marx berkesimpulan bahwa sebelum orang dapat mencapai kebahagiaan yang senyatanya, agama haruslah ditiadakan karena agama menjadi kebahagiaan semu dari orang-orang tertindas. Namun,  karena agama adalah produk dari kondisi sosial, maka agama tidak dapat ditiadakan kecuali dengan meniadakan bentuk kondisi sosial tersebut.  Marx yakin bahwa agama itu tidak punya masa depan. Agama bukanlah kencenderungan naluriah manusia yang melekat tetapi merupakan produk dari lingkungan sosial tertentu.[8]  secara jelas, Marx merujuk pada tesis Feuerbach yang ketujuh yakni bahwa sentimen religius itu sendiri adalah suatu produk sosial.

Dengan kata lain,   Marx melihat bahwa sebetulnya agama bukan menjadi dasar penyebab keterasingan manusia. Agama hanyalah gejala sekunder dari keterasingan manusia.[9] Agama menjadi semacam pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri. Manusia lalu hanya dapat merealisasikan diri secara semu yakni dalam khayalan agama karena struktur masyarakat nyata tidak mengizinkan manusia merealisasikan diri dengan sungguh-sungguh. Karena dalam masyarakat nyata manusia menderita, manusia lalu mengharapkan mencapai keselamatan dari surga. Oleh karenanya, penyebab keterasingan yang utama haruslah ditemukan dalam keadaan masyarakat itu sendiri.[10] Dengan demikian, kritik jangan berhenti pada agama. Bagi Marx, kritik agama akan menjadi percuma saja karena tidak mengubah apa yang melahirkan agama. Yang menjadi permasalahan kemudian adalah mengapa manusia sampai mengasingkan diri ke dalam agama? Menurut Marx, kondisi-kondisi materiallah yang membuat manusia mengalienasikan diri dalam agama. Yang dimaksud dengan kondisi material adalah proses-proses produksi atau kerja sosial dalam masyarakat.

Pertanyaan lebih lanjut. Apa yang perlu dikritik dalam masyarakat? Unsur macam apa yang dalam masyarakat yang mencegah manusia merealisasikan hakikatnya? Marx melihat bahwa keterasingan manusia dari kesosialannya haruslah ditemukan dalam struktur masyarakat.  Struktur masyarakat yang tidak memperbolehkan manusia bersikap sosial adalah struktur masyarakat  yang mana terjadi perpisahan antara civil society (masyarakat sipil ) dan Negara. Dalam masyarakat sipil, orang bergerak karena dimotori oleh kepentingan egoisme sendiri.[11] Dengan kata lain, masyarakat sipil adalah semacam sistem kebutuhan, ruang egoisme dimana manusia berupaya menjadikan orang lain hanya semata-mata sebagai sarana pemenuh kebutuhannya. Persaingan yang sifatnya egois ini akan melahirkan pemenang dan pecundang. Kemudian negara dimunculkan sebagai kekuatan yang mengatasi egoisme individu-individu. Adanya negara dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat.  Apabila negara tidak ada, maka masyarakat dapat menjadi anarkis. Negara mengusahakan supaya manusia  dalam masyarakat bertindak adil terhadap sesamanya. Sebagai individu,  manusia itu egois, dan ia menjadi sosial karena harus taat kepada Negara. Jika manusia itu sosial dengan sendirinya, maka tidak perlu ada Negara yang mengaturnya. Dalam struktur masyarakat yang coba ia pahami, Marx melihat bahwa ternyata agama menjadi suatu produk dari sebuah masyarakat kelas. Agama kemudian ia  pandang sebagai produk keterasingan maupun sebagai ekpresi dari kepentingan kelas dimana agama dapat dijadikan sarana manipulasi dan penindasan terhadap kelas bawah dalam masyarakat.[12]

Selain itu, Marx menemukan bahwa keterasingan dasar manusia adalah keterasingannya dari sifatnya yang sosial. Tanda keterasingan tersebut adalah adanya eksistensi Negara sebagai lembaga yang dari luar dan atas memaksa individu-individu untuk bertindak sosial, padahal individu itu sendiri bertindak egois.  Keberadaan Negara tidak dapat menghilangkan karakter egois manusia dalam masyarakat sipil, malahan  memperlengkapi karakter egois manusia dengan kerangka legal.[13] Karenanya, bagi Marx yang perlu dikritik adalah seluruh system yang memerlukan Negara, dan bukannya bentuk-bentuk kenegaraan.  Secara khusus Marx merumuskan tuntutan: “Kritik agama berakhir dengan ajaran bahwa manusia adalah mahluk tertinggi bagi manusia, jadi dengan imperatif kategoris untuk menumbangkan segala hubungan di mana manusia adalah makhluk yang hina, diperbudak, terlupakan, terhina” [ICHR, MEW 1, 385].[14] Dengan kata lain, yang diperjuangkan adalah mengenai emansipasi sebagai manusia dimana hal ini dapat dicapai ketika segala macam struktur masyarakat yang membuat manusia terasing dihapuskan. Dalam masyarakat akhir di mana manusia teremansipasi tersebut, keberadaan negara menjadi tidak diperlukan lagi. Manusia akan baik dan bersifat sosial dengan sendirinya

 

Pelaksanaaan Emansipasi

Permasalahan yang kemudian timbul adalah soal bagaimana melaksanakan emansipasi ini? Cara mencapainya adalah melalui revolusi total. Marx sampai pada pemikiran tersebut karena melihat bahwa kritik teoretis saja ternyata tidak dapat membongkar  keterasingan yang berakar dalam struktur-struktur masyarakat. Oleh karenanya, masih diperlukan suatu bentuk kritik praktis terhadap penyebab keterasingan manusia. Akhirnya Marx sampai pada kesimpulan bahwa manusia dapat menjadi bebas dari keterasingannya apabila terjadi suatu revolusi.  Revolusi yang membebaskan manusia secara radikal haruslah melahirkan masyarakat tanpa kelas yang berkuasa.[15] Marx mengatakan bahwa revolusi membutuhkan unsur pasif, dasar material. Dalam arti bahwa kebutuhan akan emansipasi itu hendaknya benar-benar dirasakan sebagai kebutuhan rakyat  sehingga dengan demikian rakyat akan terbuka pada kritik teoretis dari filosof.

Revolusi yang dikehendaki terjadi adalah revolusi yang benar-benar radikal, tidak hanya politis. Oleh karenanya,  revolusi ini hanya dapat dijalankan oleh kelas yang mengalami penindasan secara total dan juga bermusuhan dengan semua kelas yang lain dalam masyarakat. Mereka ini tidak hanya mengalami beragam penghinaan, tetapi juga merasa telah kehilangan kemanusiaannya. Kelas yang semacam inilah yang menurut Marx dapat melakukan revolusi radikal yang dapat mengemansipasikan manusia tanpa memunculkan struktur kekuasaan kelas atas baru atas kelas-kelas lain. Mereka ini adalah proletariat, yakni kelas total karena tertindas total. Proletariat menjadi partner filosof dalam karya emansipasi manusia. “Kepala emansipasi itu adalah filsafat, hatinya adalah proletariat. [ICHR, MEW 1, 391].[16] Bagi Marx, amat penting bahwa yang pertama-tama kaum buruh sebagai proletariat itu harus tertarik dengan sendirinya pada kaum intelektual/filosof. Dalam hal ini pula sesungguhnya kaum intelektual harus mampu menangkap penderitaan real para buruh, merefleksikannya secara teoretis dan hal ini pun kemudian harus ditangkap pula oleh para buruh dengan sendirinya. Jadi ada semacam jalinan antara yang teori dengan yang praksis.

 

Penutup

            Karl Marx mengawali pemikirannya tentang kritik masyarakat dengan mengacu pada apa yang diungkapkan oleh Feuerbach berkenaan dengan kritik agama. Bagi Feuerbach, supaya manusia dapat bebas dan mengaktualisasikan hakikatnya secara sepenuhnya, agama harus ditiadakan. Marx lebih jauh menangkap bahwa kritik agama perlu sampai pada kritik terhadap kondisi sosial yang menciptakan agama tersebut. Dalam hal ini, kemudian Marx sampai pada kesimpulan bahwa perlu ada suatu revolusi total oleh kaum proletariat untuk dapat membebaskan manusia dari bentuk keterasingan terutama keterasingan sosial (tidak lagi agama) terlebih dengan adanya masyarakat kelas yang mana kelas bawah mengalami ketidakadilan dan ketertindasan yang juga agama turut serta di dalamnya. Yang menjadi cita-cita adalah terbentuknya masyarakat tanpa kelas. Oleh karenanya menjadi jelas bahwa bagi Marx, kritik agama tidak dapat diabaikan sebagai  masuk pada kritik masyarakat. Kritik agama justru menjadi awal dari kritik-kritik yang lain.                                                   

 

                                                                                                                                      

***

 

Daftar Pustaka:

Hamilton, Malcolm B., The Sociology of Religion, London: Routledge, 1995

Hardiman, F. Budi,  Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzche, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004

Kolakowski, Leszek, Main Current of Marxism, Vol.I., Oxford: Clarendon Press, 1978

Magnis-Suseno, Franz,  Pemikiran Karl Marx. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,  2000

Marx, Karl, Early Writings, London: Pinguin Books, 1992

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




[1] Malcolm B. Hamilton, The Sociology of Religion, London: Routledge, 1995, p.80.

[2] F. Budi Hardiman,  Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzche, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004, hal. 229.

[3] Malcolm B. Hamilton, Op.cit., p.81.

[4] Franz Magnis-Suseno,  Pemikiran Karl Marx. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,  2000, hal. 77.

[5]Malcolm B. Hamilton, Op.cit., p. 81.

[6]Malcolm B. Hamilton, Ibid., p. 82.

[7] Karl Marx, Early Writings, London: Pinguin Books, 1992, p. 244.

[8] Malcolm B. Hamilton, Op.cit.,  p. 83.

[9] Franz Magnis-Suseno, Op.cit., hal. 73.

[10] Franz Magnis Suseno, Ibid., hal. 73.

[11] Franz Magnis-Suseno. Op.cit., hal. 78.

[12] Malcolm B. Hamilton, 1995, Op.cit., p.80.

[13] Leszek Kolakowski, Main Current of Marxism, Vol.I., Oxford: Clarendon Press, 1978, p. 121.

[14] Franz Magnis Suseno, 2000, Op.cit., hal. 80.

[15] Franz Magnis Suseno, 2000, Ibid., hal. 82

[16] Franz Magnis Suseno, 2000, Ibid., hal. 84.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: