jump to navigation

encounter May 4, 2007

Posted by dirga primawan in filsafat manusia.
trackback

ENCOUNTER

By Remy C. Kwant, O.S.A., Ph.D.

Duquesne University Press, Pittsburgh. Pa. 1965.

Diringkas oleh B. Dirgaprimawan (Wisma Dewanto)

 

Latar Belakang

Sejarah memotret sebuah interaksi berkelanjutan antara masyarakat dan individu. Di dalam masyarakat, individu berproses menjadi matang/dewasa. Dalam masyarakat pula, individu dapat menjadi independen dan mampu menilai ataupun menyalahkan masyrakat dimana ia tinggal. Selain itu, ia juga dapat mempengaruhi suatu masyarakat. Ia dapat mengembangkan ide-ide baru dan  pola-pola perilaku yang baru, yang membentuk dasar dari bentuk relasi yang baru di dalam lingkungan masyarakat sosialnya.

Di awal abad modern ini, dapat dijumpai berbagai macam bentuk eksterem  individualisme. Para pemikir/filsuf  mulai membayangkan diri mereka sendiri sebagai yang independen dan self reliant dalam pemikirkannya. Para kaum intelek pun merasa diri sudah dicerahkan dan sibuk dengan  ide-ide mereka sendiri yang jelas dan terpilah-pilah ataupun dengan impresi yang bermakna.

Pada abad pertengahan, agama dipandang sebagai jalan menuju keselamatan personal dan risalat asketis yang menekankan pengorbanan diri. Beberapa orang bahkan mengklaim bahwa masyarakat menjadi ada melalui suatu pilihan atas individu-individu yang bebas.  Pada masa sekarang pun, dimana-mana kita temukan pemikiran dan kehidupan individualistik seperti pada abad yang lampau.

Di waktu sama ini, kita juga melihat pertumbuhan dari dunia produksi yang semakin hebat. Revolusi industri menyatukan manusia lebih daripada dalam sebuah tatanan kelas pekerja. Dalam periode yang sama mengenai individualisme yang ekstrim, Marx menulis tentang kekuatan kelas pekerja yang mensosial dan meramalkan dunia masa depan.

Memandang fonemena tersebut, Kwant mengungkapkan bahwa eksistensi kita adalah sekarang, yakni sebuah eksistensi sosial, menjadi bersama. Kita telah menangkap, suatu kekuatan baru yang mengatasi alam. Kekuatan ini adalah di tangan kelompok, dan karenanya, itu haruslah disebut sebagai kekuatan sosial. Inddividu berpartisipasi dalam kekuatan sosial dengan memenuhi suatu fungsi.

Kita menjadi sadar akan keluasan dan kedalaman persekutuan kita dengan masyarakat melalaui krisis-krisis yang berkembang di dalam kehidupan kita dan di dalam pemikiran kita. Masih tertinggal sisa-sisa dari individualisme yang dilebih-lehihkan ketika orang menentang integrasi kehidupan mereka ke dalam masyarakat dan melihat dengan segan dan keberatan atas struktur sosial dari eksistensi kita.

Yang mau dilihat sekarang adalah luasnya  dimana eksistensi kita itu terlibat dalam suatu keadaan being-together. Kwant memandang bahwa keterlibatan manusia dalam keadaan being together memberi arti penuh dan berarti bagi semua hal.

 

 

 

Pertanyaan Fundamental

Dalam buku ini, Kwant hendak berusaha menjawab dua pertanyaan mendasar berikut ini. Manakah yang lebih akrab atau yang lebih kita kenal, barang-barang ataukah sesama manusia? Dan Apakah kita menjadi kenal dengan sesama manusia melalui barang-barang atau justru sebaliknya?

Menurut Edmund Husserl dalam teorinya  “Natural Attitude”, kita ini hidup dalam dunia yang jelas dan transparan terhadap barang-barang. Kita tahu berbagai macam barang di sekitar kita beserta kegunaannya. Sebagai contoh, kita  tahu bagaimana menyetir dengan belajar bagaimana menyetir mobil. Dengan kata lain kita mampu untuk mempelajarai hal-hal yang sifatnya mekanik  dari berbagai macam barang karena ada fungsi dari barang itu yang jelas bagi kita. Karenanya kita menjadi lebih kenal dengan berbagai barang melalui berbagai macam sarana-sarana petunjuk pemakaian barang. Selain itu, dalam pandangannya, natural science ternyata lebih banyak berhasil daripada sociological science karena natural science mengamati benda-benda yang sifatnya jelas sedangkan sociological science mengamati manusia yang sebetulnya tetaplah sebagai the Great Unknown. Dari situ disimpulkan bahwa kita lebih akrab dengan barang-barang daripada dengan sesama manusia.

Namun Kwant melihat bahwa teori “natural attitude” ini adalah suatu kecenderungan dalam pemikiran kita untuk memandang dunia yang aktual dan transparan sebagai yang alami dan yang original. Kwant ingin memperlihatkan bahwa sesungguhnya dunia yang kita kenal dini adalah “cultured world”.  Bahkan dunia material ini adalah suatu data yang bersifat kultural, yang mana disebabkan  oleh manusia yang kreatif secara cultural. Dengan demikian, keakraban kita dengan barang-barang yang berada di sekeliling kita muncul jutru melalui keakraban kita dengan rekan kita sesama manusia. Seorang yang primitive (dari hutan) yang kemudian berada di lngkungan modern, jelas tidak mungkin mengenal barang-barang di sekitarnya, tanpa ada kontak dari manusia di lingkungan modern. Dengan kata lain, komunikasi antar manusia telah menjadikan lingkungan kita sesuatu yang ada cukup jelas bagi kita. Kwant berkesimpulan bahwa kita memperoleh kejelasan  mengenai barang-barang melalui komunikasi antar subjektif. Kesimpulan ini pun memunculkan pertanyaan lebih lanjut. Benarkah bahwa melalui relasi antarmanusia kita sampai pengetahuan bahkan sampai pada pemahaman tentang barang-barang? Kwant ingin menyelidiki apakah faktor komunikasi antar manusia adalah merupakan bentuk paling awal dan paling fundamental dari pengetahuan.

 

Kontak Antar Manusia

Kwant memandang bahwa pengetahuan tentang manusia itu bersifat langsung dan spontan. Menurutnya, pribadi manusia tidak tersembunyi di belakang perilaku luarnya, tetapi ada di dalamnya. Manusia adalah exixtense, ia berada di dunia saat ini (being in the world). Karenanaya kepribadian manusia tidak tersembunyi oleh tubuh sebagai kerudungnya. Dan bahwa perilaku luarnya itu justru merupakan suatu bentuk pembadanan dari the inner self. Manusia itu eksis dan nampak melalui tubuh dan secara langsung dapat didatangi oleh kita.

Kwant menambahkan bahwa pengetahuan kita tentang orang lain itu bersifat primordial dan tidak dapat diperkecil lagi pada berbagai pengetahuan lainnya.  Malahan kita dapat menyebutnya sebagai suatu keakraban  primordial. Kontak manusia  dengan manusia yang lain tidak hanya primordial tetapi juga adalah merupakan kekuatan yang membawanya berhadapan dengan benda-benda.

 

Keakraban dengan Dunia melalui Kontak Kita dengan Sesama Manusia- ( HUMAN ENCOUNTER )

Kwant berpandangan bahwa perjumpaan dengan orang lain adalah hal yang fundamental dalam eksistensi kita. Perilaku yang penuh arti menjadi mudah terkomunikasikan hanya di dalam perjumpaan manusia (human encounter). Kita belajar hidup bersama bukan karena supaya kita bisa eksis di dunia yang sama ini, tetapi di dalam dan karena perjuampaan manusialah kita memulai hidup di dunia yang sama. Seorang anak kecil ditempatkan dalam lingkungan masyarakat  dan di situ justru ia berada pada tingkat belajar mengenai being-together. Jika seseorang bermaksud membesarkan anak dalam suatu lingkungan yang beradab tanpa mengizinkannya untuk berjumpa dengan orang lain, maka anak tersebut tidak akan dapat memahami dan mengenal lingkungannya tersebut. Makna dari berbagai macam benda/barang yang kita gunakan pun menjadi terang/jelas setelah kita  mengamati orang-orang lain yang menggunakan barang-barang tersebut dan kemudian belajar bagaimana memahami  arti dari perilaku mereka. Dengan kata lain, kita memahami dunia manusia karena kita memahami manusia dan bukan sebaliknya.

Selain itu, dalam bidang psikologi diperlihatkan suatu fakta yang mengacu pada point di atas. Seorang anak yang dibesarkan di dalam suasana cinta dan penuh afeksi, akan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, dan tahu akan dunia. Namun apabila seorang anak meskipun secara teknis mendapat perawatan yang memadai tetapi tanpa cinta dan afeksi, pertumbuhan pribadinya yang matang akan sulit berkembang. Oleh karenanya, cinta menjadi kontak yang tertinggi antar manusia.

Karena  Cinta adalah kontak yang terttinggi antar manusia, penelitian psikologi membuktikan bahwa tingkat dimana kita sungguh-sungguh tumbuh secara penuh sebagai manusia dan mengenal cara hidup manusia adalah melalui perjumpaan (encounter) dengan orang lain. Kita menjadi akrab/mengenal barang-barang karena keakraban kita sebelumnya dengan orang-orang. Kita menjadi peka terhdap dunia juga karena kepekaan kita terhadap orang lain.

Menurut Kwant pula, being-together-with-others ini terjadi di dunia sehingga membuat duni ini menjadi akrab/dikenal oleh kita. Being together di sini tidak mempunyai maksud tersembunyi, malahan segala sesuatunya mengacu pada tujuan relasi antar manusia. Manusia bercakap-cakap karena percakapan dalam suasana ini adalah suatu hal yang menyenangkan. Hiburan ataupun relaksasi yang penuh arti kerap kali dicari dan ditemukan dalam being-together. Bagi Kwant, Being together adalah asal mula dari banyak arti.

Being together with others juga merupakan bidang fundamental dimana semua nilai-nilai yang lain menjadi dapat diketahui. Sebagaimana warna dan garis kontur bisa menjadi kelihatan karena cahaya yang terang, sama halnya semua nilai menjadi kelihatan karena being-together. Seperti seorang pelukis yang senang pergi ke berbagai tempat dimana ada banyak cahaya supaya dapat melihat berbagai benda dengan lebih jelas, manusia juga punya hasrat untuk mengalami nilai-nilai  dengan being-together-with-others.

Bahasa adalah suatu perjumpaan manusia (human encounter)

Karena manusia termasuk dalam masyarakat bahasa yang sama, mereka hidup dalam duni pemikiran yang sama. Bahasa adalah suatu perjumpaan yang telah mengambil suatu bentuk tertentu di dalam dunia ini. Hal ini tampak dalam suasana dimana orang yang berbicara dengan bahasa yang sama kerapkali berdebat dan saling tidak setuju. Hal ini menguatkan bahwa suatu diskusi dapat terjadi apabila ada orang-orang yang berkomunikasi dalam dunia pemikiran yang sama.

Bahasa juga mengindikasikan dua hal. Yang pertama adalah bahwa bahasa mengacu pada barang-barang yang dibicarakan. Barang-barang menjadi terungkapkan melalui bahasa. Yang kedua, bahasa mengindikasikan orang-orang yang secara bersama-sama menggunakan bahasa tersebut. Point yang kedua ini tidak semuanya bersifat accidental. Dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan memang bukan temuan kita. Kita telah belajar bagaimana menjelaskan berbagai benda/barang karena kita termasuk dalam masyarakat yang mengenal berdiskusi.

Setiap bahasa adalah suatu hal yang membawa pada terang, suatu yang mengungkapkan dunia dalam komuntas bersama orang lain. Menurut Kwant, meskipun seseorang pergi menyendiri dengan maksud untuk mencari ide-ide secara kreatif, namun pemikirannya tetaplah dalam level sosial. Ia dapat melakukannya hanya karena ia adalah bagian dari masyarakat dimana melalui bahasa  sehingga dunia menjadi dapat dimengerti. Ketika seseorang berpikir, ia sedang melanjutkan suatu usaha yang umum. Ia terkondisikan di dalam usaha masyarakat. Karena ia mempunyai kewajiban pada masyarakat bahasanya, masyarakat tersebut sebagai timbal baliknya mempunyai hak untuk memberikan keuntungan dari pemikirannya.

 

Perspektif Teologis

Kwant memandang bahwa perjumpaan manusia adalah  suatu proses yang terus menerus dan bahkan sampai pula pada tataran super human. Melalui perjumpaan kita dengan orang lain, kita menjadi akrab dan belajar mengetahui/mengenal Tuhan. Kehidupan religius secara alami juga merupakan suatu bentuk realitas sosial. Yang dimaksud dengan sosial di sini adalah bahwa ada keyakinan dimana seorang pribadi masuk dalam kontak dengan Tuhan ketika ia masuk dalam perjumpaan dengan komunitas religius.

Kwant menunjukkan pula  bahwa eksistensi kita itu ada di dalam kontak antar subjekktif. Studi mengenai sejarah bahkan mengungkapakan pada kita bahwa manusia, baik manusia primitive maupun manusia yang beradab, mengenal hidup religius justru di dalam suatu komunitas religius dari banyak orang-orang.

Lebih lanjut Kwant mencoba mengamati dalam sejarah agama kristiani. Dalam agama Kristiani, Kristus adalah Tuhan dan Kristus mau menjadi manusia dan karenanya adalah mungkin bagi orang-orang untuk berjumpa dengan Tuhan  dalam wujud-Nya sebagai manusia. Adalah melalui Kristus,   Tuhan mendirikan di bumi ini suatu komunitas orang-orang yang percaya kepada-Nya dan berdoa sebagai suatu komunitas. Generasi sesudah Kristus kemdian menemukan Tuhan dalam komunitas  dan oleh karena komunitas, yang  kemudiasn secara tradisional disebut Gereja. Gereja adalah komunitas dari orang-orang percaya pada Kristus, dimana manusia ada dalam kontak dengan Tuhan.  Sebagaimana melalui being-together ini, kita menjadi akrab dengan dunia, begitu pula orang-orang kristiani menjadi akrab dengan Tuhan  di dalam Gereja.  Keakraban ini dapat dicapai jika Tuhan benar-benar dirasakan tinggal dalam Gereja. Umat Kristiani meyakini bahwa Tuhan melanjutkan inkarnasinya dalam Gereja. Inkarnasi Tuhan berarti bahwa Gereja telah masuk dalam sejarah manusia dan melanjutkan untuk tinggal di dalamnya.

 

Kesimpulan dan Pandangan Pribadi

Dari apa yang dipaparkan di atas, dapat dicermati bahwa perjumpaan antar manusia menjadi kunci dari berkembangnya dunia ini. Manusia mengenal dunia justru karena ada kontak dengan manusia yang lain. Hal ini berarti bahwa keterlibatan manusia dalam “being together” ini mampu memberikan arti penuh dan berharga pada semua hal, termasuk pada barang-barang. Kontak tersebut terjadi lewat bahasa. Barang-barang menjadi dikenal lewat kata-kata. Dengan demikian perjumpaan (encounter) merupakan suatu tanda nyata bahkan menjadi referensi sentral tentang bagaimana memahami manusia.

            Refleksi Kwant ini menurut saya, mampu memberi titik terang dalam menyikapi gejala individualisme yang makin gencar. Kwant mampu mengetengahkan bahwa manusia adalah tetap mahluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain untuk dapat memahami dunia ini. Manusia juga dapat sampai pada kepenuhannya dengan menyadari bahwa ia tumbuh karena perjumpaan/relasinya dengan sesama manusia. Namun yang patut dicermati kembali adalah mengenai bagaimana sesungguhnya bentuk ideal dari perjumpaan manusia itu. Perjumpaan itu pun juga merupakan suatu proses dan oleh karenanya, proses menjadi suatu hal yang tidak kalah penting. Kwant masih berbicara dalam tataran yang umum. Meskipun demikian, Kwant mampu  menanggapi sisi ekstrim dari individualisme dengan mengacu pada pemahaman akan eksistensi manusia itu sendiri.

 

 

 

 

Jakarta, 18 Agustus 2005

 

amdg

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: