jump to navigation

science and art May 3, 2007

Posted by dirga primawan in art.
trackback

oleh Bernadus Dirgaprimawan

 

6 Juni 2006

SENI DAN PENGETAHUAN

Melalui novelnya yang berjudul The Da Vinci Code, Dan Brown telah menggebrak dunia. Dengan kepiawaiannya, Dan Brown mengajak para pembacanya untuk menelusuri berbagai macam karya seni, seperti lukisan Monalisa, Perjamuan Malam Terakhir, Mary of the Rocks. Karya seni tersebut seolah-olah memuat fakta-fakta tersembunyi dan misteri yang hendak dipecahkan sehingga menghantar orang untuk mengetahui tentang kebenaran silsilah keturunan Yesus. Banyak orang mulai bertanya-tanya tentang fakta dan kebenaran yang ada pada novel tersebut. Berbagai pandangan kemudian dimunculkan untuk menyanggahnya. Kontroversi demi kontroversi terus berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa suatu karya seni ternyata mampu mempengaruhi manusia dalam berbicara tentang kebenaran. Dalam hal ini pengetahuan terkait dengan pencapaian kebenaran. Fenomena yang semacam ini mendorong saya untuk memahami kaitan antara seni dan pengetahuan yang menghantar orang pada pencapaian kebenaran. Oleh karena itu, berikut ini akan dipaparkan tentang pandangan Eileen John dalam artikelnya yang berjudul Art and Knowledge.

Eileen John mengemukakan bahwa yang menjadi pokok perdebatan antara seni dan pengetahuan itu adalah pada potensi seni sebagai suatu sumber pengetahuan.[1] Berangkat dari pernyataan tersebut, kemudian dapatlah ditarik suatu pertanyaan, seperti: Apa yang dapat kita pelajari dari seni dan bagaimanakah pembelajaran itu dapat terjadi? Untuk memahaminya, kita dapat menelusuri beberapa point berikut ini.

A. Dua Macam Model Pendekatan Ekstrem terhadap Seni sebagai Suatu Sumber Pengetahuan

Ada dua macam pendekatan ekstrem yang muncul dari pernyataan bahwa seni dapat menjadi suatu sumber pengetahuan. Yang pertama, seni diterima secara antusias sebagai sumber inspirasi dan kesadaran baru. Bahkan terkadang dalam hal ini, suatu inspirasi itu pun tidak dapat diungkapkan/dilukiskan dengan kata-kata. Kita hanya cukup membiarkan diri terbuka terhadap dunia ini dalam suatu cara baru. Yang kedua, seni ataupun pengalaman yang berhubungan dengan seni itu jelas ditolak karena seni tidak bisa disejajarkan dengan pengetahuan. Dalam arti ini, pengetahuan lebih didefinsikan sebagai yang benar dan terjustifikasi. Dengan kata lain, seni itu ditolak karena tidak dapat memberikan penegasan pembenaran terhadap keyakinan apapun yang mau disampaikan. Bahkan meskipun ada semacam klaim-klaim pengetahuan yang dipresentasikan dalam suatu karya seni, namun klaim-klaim tersebut dianggap tidak sah dan dari segi isinya juga tidak mendapat tempat.

Kedua pendekatan ini sebetulnya mau menunjukkan soal asumsi bahwa jika seni adalah suatu sumber pengetahuan, maka cara untuk menggapai fungsinya ini haruslah mencerminkan sesuatu yang esensial dari sisi alamiahnya dan dari nilainya sebagai seni. Para pendukung pola pendekatan pertama yang di atas tersebut akan cenderung mengkaitkannya dengan pengalaman akan suatu karya seni tertentu. Menurut mereka, pengetahuan itu tidak dapat dilepaskan ataupun dipisahkan dari kesadaran akan karya seni itu sendiri. Sedangkan bagi para pendukung pendekatan yang kedua, unsur epistemik sangatlah ditekankan sebagai syarat penting yang harus dipunyai oleh bidang seni apabila mau disebut sebagai sumber pengetahuan.

Eileen John menunjukkan pula bahwa kerap kali banyak orang mengatakan bahwa mereka telah belajar sesuatu dari seni. Terhadap pernyataan tersebut, Eileen John mencoba mengkajinya berdasar ketiga macam batasan berikut ini. Yang pertama, belajar dari seni itu menuntut adanya beberapa tingkatan kesadaran tentang apa dimaksud sebagai pengetahuan baru. Yang kedua, hal-hal yang berhubungan dengan seni haruslah mampu menghasilkan beberapa bentuk justifikasi maupun konfirmasi. Dalam arti bahwa seni itu mampu memberikan beberapa alasan/argumentasi untuk dapat menerima dan mempercayai adanya perubahan dalam pikiran, perasaan, persepsi ataupun perilaku seseorang yang disebabkan oleh seni tersebut. Yang ketiga adalah bahwa hal belajar dari seni itu haruslah mampu menerangkan tentang bagaimana pembelajaran itu juga tergantung pada alam dan nilai dari seni sendiri.

Terkait dengan kognitivisme, Eileen John menjelaskan bahwa ada beberapa unsur yang harus dipenuhi supaya kognitivisme tersebut dapat diterima. Yang pertama, isi dari pembelajaran tersebut hendaklah dapat terspesifikasikan (misalnya, tentang apa yang kita pelajari). Yang kedua, tuntutan-tuntutan akan pembenaran haruslah diperhitungkan pula (misalnya tentang pertanyaan bagaimana pengetahuan itu muncul). Yang ketiga, hal pembelajaran ini juga mengacu pada ciri-ciri karakteristik dari pengalaman artistiknya. Dengan demikian, belajar dari seni itu kerap kali ditandai dengan suatu tingkatan intensitas tertentu, adanya fokus, maupun kekayaan pengalaman belajar itu sendiri.

B. Stimulasi kognitif

Menurut Eileen John, siapapun yang meragukan bahwa seni adalah suatu sumber pengetahuan pada umumnya akan tetap mengakui bahwa seni adalah suatu sumber stimulasi kognitif. Menjadi stimulasi kognitif berarti sekurang-kurangnya mendorong terjadinya kegiatan-kegiatan dalam kesadaran, yakni : pikiran, perasaan, persepsi, dan gairah. Seni itu dikatakan dapat menstimulasi secara kognitif karena seni mempunyai suatu efek yang menstimulasi, yakni suatu efek yang mendorong terjadinya kegiatan-kegiatan sadar yang baru, yang memang bersifat menarik, provokatif, intens, dan suggestif. Aktivitas macam ini bisa mengarah pada pengetahuan. Meskipun demikian, secara lugas dapat dikatakan bahwa dalam kapasitas semacam ini, seni mempunyai potensi untuk menjadi sumber pengetahuan.

C. Isi dan Pembenaran Pengetahuan

Mengapa kita perlu menerima pandangan bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan dari seni? Apakah ada bukti-bukti tentang hal tersebut? Mungkinkah seni itu memberi otoritas tertentu pada kita sebagaimana pengetahuan itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengarah pada isi dan pembenaran pengetahuan yang diperoleh melalui seni. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa apa yang sedang dipelajari itu mempunyai pengaruh terhadap penentuan tentang jenis maupun model pembenaran seperti apa yang dibutuhkan.

Secara konkrit, kita dapat melihatnya pada persoalan apakah kita memang belajar sesuatu dari suatu karya yang dihasilkan oleh seniman. Kita belajar dari seni karena sang seniman itu mempunyai pengetahuan yang mau ditransmisikan melalui karyanya. Karya seni itu kemudian mempunyai otoritas karena si pembuatnya memang mempunyai otoritas. Namun yang kemudian menjadi persoalan adalah bahwa walaupun si seniman itu mungkin mempunyai pengetahuan yang relevan, tetapi mereka toh tidak perlu menggunakan seni mereka untuk menyajikan ekspresi-ekspresi tentang apa yang mereka ketahui. Selain itu, pengetahuan kita tentang karya seni juga akan harus disertai dengan bukti-bukti eksternal baik yang mendukung apa yang si seniman itu ketahui ataupun yang menunjukkan otoritas relevan dari si seniman tersebut. Dalam hal ini, kaitan antara apa yang sang seniman ketahui dan bagaimana kita mengalami karya-karya seniman itu bersifat tidak langsung dan unreliable untuk dapat menyajikan suatu karya yang bermuatan epistemik.

D. Pengetahuan Eksperiensial

Pengetahuan eksperensial adalah pengetahuan tentang bagaimana rasanya mengalami sesuatu itu dari suatu perspektif tertentu, bagaimana mengamati suatu kejadian tertentu, dan bagaimana merasakan suatu emosi tertentu. Kerap dikatakan pula bahwa pengetahuan eksperensial ini terkait dengan pandangan bahwa seni dapat menjadi sumber dari pengetahuan eksperensial. Hal ini tampak dari karya-karya seni yang berasal dari keterlibatan imajinasi manusia.[2] Novits menunjukkan bahwa ”keterlibatan imajinasi kita dalam fiksi memampukan kita untuk merespons secara emosional terhadap ciptaan fiksi tersebut. Lebih lanjut, Novitz menyatakan bahwa karya-karya seni itu juga dapat menghantar kita sekurang-kurangnya dalam memperoleh kepercayaan eksperensial.

E. Pengetahuan Moral

Ada beberapa argumen yang menyatakan bahwa kita memang secara moral belajar dari seni. Argumen yang pertama mengacu pada kapasitas seni dalam memberikan bagi kita contoh dan praktek-praktek kegiatan yang berhubungan secara moral. Dalam mengalami seni, dan terutama dalam fiksi literer, kita dapat belajar tentang tanggung jawab kehidupan moral.[3] Pengetahuan moral ini kita peroleh melalui belajar dari tindakan. Dengan hal ini, kita dapat semakin mengembangkan keterampilan bertanggung jawab.

Argumen yang kedua mengatakan bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan moral substansif yang spesifik dari seni. Seni itu mempunyai daya yang memberi kita akses imajinatif ke dalam pengalaman yang relevan dalam soal penilaian dan pengetahuan. Misalnya, adanya fakta bahwa kita dapat merasakan perasaan tertentu dalam lingkungan tertentu yang diimajinasikan sehingga membantu kita untuk mengetahui input moral dari luar yang dibawa masuk ke dalam lingkungan tersebut. Selain itu, pengalaman kita yang terkait dengan suatu karya seni juga dapat menunjukkan bagi kita tentang adanya input moral dari luar, baik tentang peristiwa-peristiwa yang memang real dialami ataupun yang dibayangkan.

F. Seni dan Kategori Pengetahuan

Cara penting lain untuk memandang seni sebagai suatu sumber pengetahuan adalah dengan melihat peran seni dalam menciptakan dan membentuk kategori pengetahuan. Terkadang muncul klaim bahwa seni punya peran dalam memberikan bagi kita pengetahuan konseptual. Klaim yang lebih radikal lagi adalah bahwa seni itu dalam berbagai cara membantu membentuk apa yang dapat kita ketahui. Bahkan, ada pernyataan bahwa apabila konstruksi-konstruksi inovatif yang dihasilkan oleh suatu karya seni ternyata cocok dengan kebutuhan kita dan kemudian berubah menjadi sesuatu yang dapat diproyeksikan dalam pemikiran masa depan dan praktek ke depan, hal ini membuktikan bahwa seni dapat membentuk pemahaman kita tentang dunia.

Lalu mungkinkah bahwa seni itu mempunyai efek yang memang powerful? Anne Hollander berpendapat bahwa film-film yang diputar itu telah mengajarkan kita dalam mengenali pentingnya perhatian akan makna yang dihadirkan dalam film tersebut. Dengan demikian, seni memang mempunyai efek yang powerful.

G. Kesimpulan

Mempertimbangkan seni sebagai suatu sumber pengetahuan itu ternyata penting bagi pemahaman kita akan seni itu sendiri. Namun, hal ini merupakan bidang yang memang perlu ditelusuri dari sisi epistemologi umum. Dengan kata lain, apa yang kita pelajari dari seni itu cocok untuk ditempatkan dalam kawasan yang menantang secara epistemologis. Meskipun demikian patut disadari pula bahwa seni adalah salah satu fenomena yang menunjukkan betapa model-model pengetahuan proporsioanl yang tradisional itu tidaklah mencukupi. Kita masih perlu suatu teori pengetahuan yang dapat merengkuh juga hal tentang mengetahui bagaimana mengindera, membayangkan, dan merasakan secara tepat. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa daya-daya seni yang menstimulasi secara kognitif adalah suatu sumber yang baik dalam mempelajari tentang peran faktor-faktor di dalamnya seperti kreativitas, keterkejutan, ketertarikan, dan pilihan (tindakan) dalam mengakomodasi munculnya ide-ide baru.

*****

Daftar Pustaka:

John, Eileen, “Art and Knowledge” dalam Routledge Companion to Aesthetics (ed: Berys Gaut & Dominic Mclper Lopez) London: Routledge, 2001

Kleden, Ignas, “Fakta dan Fiksi tentang Fakta dan Fiksi: Imajinasi dalam Sastra dan Ilmu-Ilmu Sosial” dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2004

Kleden, Ignas, “Pergeseran Nilai Moral, Perkembangan Kesenian, dan Perubahan Sosial” dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2004


[1] Eileen John, “Art and Knowledge” dalam Routledge Companion to Aesthetics (ed: Berys Gaut & Dominic Mclper Lopez) London: Routledge, 2001, page. 329-340.

[2] Ignas Kleden menyatakan bahwa Imajinasi adalah kemampuan menciptakan imago, image, atau citra, namun sekaligus juga kondisi ketergantungan manusia kepada citra. Akal dan Pikiran manusia bukan saja sanggup menciptakan citra-citra yang dibutuhkannay, tetapi juga mutlak membutuhkan citra-citra tersebut sebagai tempat menggantungkan pengertian dan tanggapannya. Karenanya, imajinasi bukanlah sekedar suatu keunggulan pikiran, tetapi juga alat bantu untuk pikiran itu sendiri, yang oleh pikiran itu diciptakan untuk menolongnya memahami atau menyusun sebuah ide atau konsep. Bdk. Ignas Kleden, “Fakta dan Fiksi tentang Fakta dan Fiksi: Imajinasi dalam Sastra dan Ilmu-Ilmu Sosial” dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2004, hal. 445.

[3] Menurut Ignas Kleden, hubungan antara kesenian dan moral ditandai oleh ambivalensi pada beberapa tingkat terkait dengan otonominya. Yang pertama adalah bahwa kesenian itu dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai moral, ataupun sarana pendidikan umum. Misalnya dalam sastra lama dongeng-dongeng, termuat fungsi didaktis yang kuat untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak. Sutan Takdir Alisjabana melihat sastra sebagai sarana pendidikan untuk kemajuan masyarakat. Dalam hal ini kesenian dipandagn tidak bersifat otonom tetapi heteronom

Yang kedua, ada pengandaian bahwa dalam kesenian berlaku semacam spiritualitas (kehidupan rohani) yang menyebabkan bahwa penghayatan moral seorang seniman tidak selalu dikukur dengan norma moral yang biasanya berlaku dalam masyarakat. Dasarnya adalah bahwa kesenian mempunyai semacam otonomi sendiri, sehingga kategori-kategori moral yang berlaku dalam masyrakat tidak selalu dapat diterapkan begitu saja pada bidang kesenian.

Yang ketiga, ada anggapan yang mengakui adanya otonomi kesenian, tetapi otonomi ini lebih merupakan semacam daerah peristirahatan/persembunyian, tempat konflik dan dilemma-dilema moral ditampung dan tidak lagi diganggu gugat secara moral karena telah mendapatkan semacam perlindungan dalam kekebalan estetis. Bdk. Ignas Kleden, “Pergeseran Nilai Moral, Perkembangan Kesenian, dan Perubahan Sosial” dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2004, hal. 382-383.

Comments»

1. danny - May 4, 2007

wow…ada juga toh filsafat cina? thanks yach buat informasinya…

2. danny - May 4, 2007

Klo soal…seni & pengetahuan…Hmmm kayaknya menarik. Gw setuju klo dikatakan bahwa seni berperan juga ngasih kita pengetahuan tentang sesuatu. Tidak hanya sains saja yang bisa melakukannya. Tapi emang bhw kedua bidang ini ga bisa diperbandingkan secara sejajar begitu saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: