jump to navigation

ekologi May 3, 2007

Posted by dirga primawan in my paper.
trackback

Oleh Bernadus Dirgaprimawan

EKOLOGI DAN LATIHAN ROHANI[1]

Dalam artikel ini, Trileigh Tucker menunjukkan butir-butir pandangan ekologis[2] yang terdapat dalam latihan rohani St. Ignatius. Ia berangkat dari suatu pertanyaan, ”mengapa seseorang yang tertarik pada spiritualitas iganasian patut peduli tentang ekologi dan perlu juga mempunyai kesadaran ekologis?”. Yang dimaksud kesadaran ekologis adalah keterbukaan kita bahwa kita berada dalam hubungan yang saling terkait dengan dunia alamiah kita (bumi dan segala macam isinya), sehingga apa yang kita lakukan terhadap bumi sebetulnya mempengaruhi kita pula sebagai bagian dari kesatuan dari bumi ini. Tucker menjawab bahwa alam ciptaan tempat kita hidup ini adalah hadiah Tuhan bagi kita. Adanya kesadaran ekologis ini justru akan membantu kita dalam memahami alam sebagai anugerah dari Tuhan. Tucker juga mengatakan bahwa alam ciptaan ini juga bersifat komunal. Artinya, ketika kita mempergunakannya ataupun menyalahgunakannya, kita turut mempengaruhi yang lain, baik itu sesama manusia maupun mahluk ciptaan lainnya.

Selain itu, kesadaran akan alam ciptaan ini dapat semakin memperdalam penghayatan kita dalam melakukan latihan rohani. Demikian pula sebaliknya. Dengan menghayati latihan rohani, kesadaran kita akan alam ciptaan semakin meningkat karena latihan rohani menawarkan pada kita suatu kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai macam krisis di dunia ini, termasuk juga krisis ekologis. Dalam latihan rohani, Ignatius meminta kita secara bertahap untuk memperluas kesadaran dan pemahaman kita, yakni dari suatu setting fisik (komposisi tempat) menuju kesadaran diri, dan akhirnya sampai pada dimensi tanggung jawab kita terhadap alam ciptaan ini dan Tuhan. lalu pada komunitas kita yang lebih luas jangkauannya, dan mengarah pula pada tanggung jawab kita, baik terhadap komunitas maupun Tuhan. Dengan cara ini, Ignatius menunjukkan pengertian intuitifnya tentang asas-asas ekologis dari kesalingterkaitan satu sama lain, dan peran penting seorang individu dalam dalam keseluruhan. Selain itu, sumbangan istimewa Ignatius pada spiritualitas kristiani adalah pengintegrasian antara aspek analitis, yang tampak pada model kemajuan terstuktur secara teliti dalam Latihan Rohani, dengan dimensi imajinatif dan penginderaan. Kebijaksanaan dari latihan rohani ini dapat memberikan cara-cara baru dalam membangun rasa kepedulian terhadap lingkungan dan menanggapi krisis ekologis dewasa ini.

Berikut ini, akan ditunjukkan beberapa butir penting dalam Latihan Rohani yang memuat suatu wawasan ekologi modern yang akan memperdalam kesadaran ekologis kita ketika menghayatinya.

Ekologi dan Compositio Loci

Ketika masuk dalam persiapan doa, Ignatius kerap meminta kita untuk membayangkan atau memunculkan dalam angan-angan mengenai tempat (setting fisik) dimana bahan-peristiwa yang akan kita kontemplasikan terjadi. Misalnya, kenisah atau bukit tempat Yesus berada (LR 47). Dengan penggambaran tempat, indera kita seolah turut ikut mencoba merasa-rasakan bagaimana kondisi tempat tersebut. Bagi Ignatius, penggambaran tempat juga merupakan sesuatu yang mendasar dalam menunjukkan siapa diri kita. Setiap penggambaran tempat yang kita buat selalu mempunyai kisah ataupun konteksnya masing-masing. Karenanya, sejak awal ia menyadari akan adanya keterkaitan erat antara kita dengan tempat kita berada. Ignatius tidak mengabaikannya. Penggambaran tempat/fisik (compositio loci) justru membantu kita masuk dalam pengalaman doa secara lebih dalam.

Kesadaran akan tempat dimana kita berada ini sekaligus menunjukkan pula akan kesadaran terhadap sesama dan alam ciptaan sekitar kita. Kekurangpedulian kita terhadap tempat di sekitar kita dapat merupakan suatu indikasi bahwa kita tidak mengenal “tetangga” (sesama manusia, hewan, tumbuhan). Padahal Oikos (rumah), yakni bumi beserta mahluk ciptaan lainnya adalah ciptaan yang pada dasarnya baik. Dalam kitab kejadian dinyatakan Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (Kej 1: 31).

Ignatius juga meminta kita untuk menyadari betapa kita begitu dicintai oleh Tuhan melalui segenap ciptaan-Nya. (LR 60 –berseru keheranan dalam perasaan meluap dalam merenungkan bagaimana segenap ciptaan telah membiarkan aku hidup dan memelihara diriku dalam hidup ini?……….). Kesadaran semacam ini didengungkan pula dan menjadi bagian dari kesadaran kita ketika kita diajak untuk masuk dalam kontemplasi penjelmaan . (LR 106.1 –melihat pribadi-pribadi satu persatu : Mereka yagn berada di atas permukaan bumi, dalam aneka ragam pakaian dan tingkah laku mereka. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang dalam perdamaian, ada yang dalam peperangan, ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang sehat, ada yang sakit; ada yang lahir, ada yang tengah meninggal, dsb.)

Budaya Konsumtif dan Dua Panji

Dalam minggu kedua Latihan Rohani, Ignatius memperkenalkan kita dengan dua panji, yakni panji Kristus dan panji Setan. Setan menggoda kita melalui kelobaan akan kekayaan, kehormatan dunia yang hampa, dan keangkuhan yang besar (LR 142). Dalam situasi sekarang, banyak orang tidak menyadari atau kurang mengetahui akan implikasi dari pengkonsumsian yang berlebihan, bahkan tidak jarang telah menjadi gaya hidup. Efek dari gaya hidup konsumtif semacam ini tidak ada bedanya dengan situasi dimana orang terperangkap dalam panji setan. Budaya konsumtif ini berangkat salah satunya dari kecenderungan orang untuk mengkesploitasi sumber-sumber alam secara berlebihan. Problem yang kemudian ditimbulkan ini tidak hanya berkutat pada berkurangnya sumber-sumber alam, tetapi juga pada soal limbah yang dihasilkan. Habitat alam menjadi rusak dan tercemari.

Ekologi dan Penderitaan

Karena ulah manusia yang tidak mempunyai kesadaran ekologis, mahluk alam ciptaan lainnya mengalami keterancaman akan habitatnya. Makanan mereka teracuni oleh pembuangan limbah, dan bahkan mereka dapat menjadi punah. Penderitaan ini terutama diakibatkan oleh kerakusan manusia dan ketidaktahuan (ketidakpedulian)nya akan implikasi dari pengeksploitasian(pengrusakan) yang tampak juga pada pola hidup konsumtif yang berlebihan. Dengan hilangnya spesies dan terancamnya ekosistem, maka menjadi terkikis pula cara-cara bagaimana Tuhan menghadirkan diri melalui alam ciptaan tersebut. Oleh karenanya, apa yang kita buat sekarang ini berpengaruh di masa depan sebagai manifestasi dari karya Allah.

Jalan-jalan menuju Penyembuhan dan Kebangkitan

Pada minggu keempat latihan rohani, Ignatius memanggil kita untuk masuk dalam karya penyembuhan dan hidup baru. Dalam LR 235, Ignatius secara khusus mengajak kita untuk memandang bagaimana Allah ada dan tinggal dalam ciptaan-ciptaan-Nya.. Allah bekerja dalam seluruh alam ciptaan (tumbuh-tumbuhan, binatang) dan dalam diri kita sebagai manusia.

James E. Hug, pimpinan eksekutif dari Jesuit Center of Concern, menyatakan dalam kesempatan Konferensi Spritualitas Ignatian 2002 tentang pentingnya menjadi sadar sepenuhnya akan konteks dimana kita berjuma dengan Tuhan. Menurutnya, dunia (bumi) yang diciptakan ini barangkali adalah yang paling tua dan karenanya menjadi salah satu konteks yang penting untuk membuka kesadaran kita akan perjumpaan kita dengan Tuhan.

Ada tiga tingkatan yang dapat membantu kita dalam memupuk kesadaran tersebut, yakni tingkatan personal, komunal, dan spiritual. Pada tingkatan personal, kita dapat menggunakan waktu kontemplatif kita untuk merasakan dan menyadari diri kita sebagai mahluk ciptaan, yakni sebagai manusia yang mempunyai lima indera. Kita sadari kebertubuhan kita yang berada di alam yang luas ini. Kita sadari alam dunia ini melalui kelima indera kita (apa yang kita lihat, kita dengar, kita cium, kita raba, kita cecap). Kita dapat mengetahui, menghormati dan berterimakasih kasih akan sesama kita. Kita memuji Tuhan atas Karya-Nya melalui mereka

Pada tingkatan kesadaran komunal, kita tidak hanya menyadari akan keterkaitan kita secara global terhadap dunia ini, tetapi juga pada dimensi tanggung jawab kita di dalamnya. Melalui kesadaran ekologis modern, kita dapat memahami bahwa ketika kita merusak daerah tertentu pada bumi ini maka kerusakan ini juga memberi pengaruh terhadap daerah yang lain, terjadi ketidakseimbangan. Namun hal ini, dapat berarti pula bahwa kita dapat menyembuhkan satu sama lain dari jarak yang jauh. Kita punya tanggung jawab untuk mencintai dan merawat alam ciptaan ini secara otentik dan lebih luas jangkauannya.

Pada tingkatan spiritual, kita juga dapat merasa disembuhkan secara spiritual melalui interaksi kita dengan alam dunia. Tindakan dan usaha kita dalam merawat alam ciptaan ini akan bergema pada yang lain, dan hal inilah yang justru akan memunculkan kebangkitan baru pada orang lain untuk mengupayakan yang sama pula. Tindakan semacam ini justru akan membuat kita akan merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Tanggapan terhadap pemikiran Tucker

Yang menarik dari apa yang diungkapkan oleh Tucker ini adalah bahwa ia menemukan kaitan yang amat berharga antara kesadaran ekologis dengan kehidupan spiritual. Orang yang menghayati spiritualitas tidak dapat lepas tanggung jawabnya terhadap alam ini. Di dalamnya, orang perlu menyadari akan Tuhan yang hadir melalui ciptaan-ciptaan, membantu manusia di dalam hidupnya. Orang yang punya pengolahan spiritual yang mendalam diandaikan pula bahwa kesadaran ekologisnya juga semakin dalam. Dengan demikian, menjadi tampak jelas bahwa kehidupan spiritual (spritualitas) bukanlah suatu dunia yang terpisah dari realitas dunia ini, yang lepas dari urusan dunia, melainkan justru merengkuhnya. Dalam arti bahwa, kehidupan spiritual melandasi orang untuk punya kepedulian terhadap ciptaan yang ada di dunia ini karena Allah sungguh bekerja melalui ciptaan-ciptaan yang lain.

Kesadaran ekologis merupakan suatu gerakan yang akhir-akhir ini begitu kuat didengungkan. Pada tahun 1970, ada seorang ilmuwan bernama James Lovelock yang memuncukan ide Gaia, yakni Bumi sebagai organisme. Bumi tidak dipandang sebagai benda mati yang bebas diperlakukan seenakkanya begitu saja. Dengan menyatakan bahwa Bumi sebagai organisme, maka bumi perlu dihargai, dirawat, dan dijaga. Padahal eksistnesi manusia terikat dengan tempat dimana ia berada (bumi). Apabila bumi terancam, maka terancam pula manusia di dalamnya.

Pater Drost dalam bukunya yang berjudul Spritualitas Ignasian mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk dicintai-Nya. Kodrat atau hakikat manusia dalah dicintai oleh Tuhan. Karenanya, Tuhan berharap agar manusaia membalas cinta itu dalam panggilan hidupnya sesuai kehendak Tuhan.[3] Manusia diberi kuasa untuk mengelola dunia ini.

Sebagai rangkuman dari seluruh Latihan Rohani, terdapat doa kontemplasi untuk mendapatkan cinta (LR 230-237). Dalam kontemplasi ini, si pendoa dia atuk untuk menyadari diri di tengah-tengah alam sebagai mansuia yang diciptakan, ditebus dan dirahmati, dan kemudian bertanya dalam batinnya akan apa yang dapat dialakukan sebagai balasan cinta yang begitu ebsar, yang dicurahkan Tuhan kepada-Nya. Setiap mahluk, setiap peristiwa selalu berarti rahmat setiap hari dalam hidupnya, dan mengundangnya berdoa seperti Ignatius ‘Terimalah ya Tuhan dan ambillah….semua itu pemberian-Mu, kepada-Mu, ya Tuhan, kupersembahakan.[4]

Ketika orang benar-benar menghayati spriritualitas, ia mencoba menemukan Tuhan dalam segala, baik dalam pekerjaan, sesame, lingkungan. Pada saat itu pula, ia menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan di atas segalanya. Kontemplasi mendapatkan cinta mengajar koragn untuk menyadari akan Allah yang memberikan diri-Nya sendir dan abgaiman Alla bekerja pada seluruh citpaan. Dengan itu, orang mau mengalami tuhan sebagai pemberian/anugerah dan yagn selalalu bekerja di segala waktu dan di segala hal. [5]


[1] diringkas dari artikel yang berjudul “Ecology and the Spritual Exercises” oleh Trileigh Tucker dalam buku The Way: a review of Christian Sprituality January 2004, hal. 7-18.

[2] Istilah ekologi berakar pada bahasa Yunani, yakni oikos (rumah) dan logos (reason, disscours). Ekologi meliputi interaksi antar individu, antar populasi, dan antar aberbagai mahluk hidup dengan lingkungannay yang membentuk berbagai system ekologi

[3] Drost, “Allah Pencipta Kita Semua” dalam Spiritualitas Ignasian, 1999, Semarang: Provinsi Indonesia Serikat Yesus, hal. 120.

[4] A. Soenarja, “Doa dalam Spiritualitas Ignasian” dalam Spritualitas Ignasian, Yogyakarta: Provinsi Indonesaia Serikat Yesus, 1980, hal. 8.

[5] William A. Barry, Contemplatives in Action, New Jersey: Paulist Press, 2002, page. 78.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: