jump to navigation

May 3, 2007

Posted by dirga primawan in Uncategorized.
trackback

oleh Bernadus Dirgaprimawan

Rabu, 17 Mei 2006

 

Alam, Sains, dan TAOISME

A. Pengantar

Memandang alam memang tidak lepas dari berbagai segi. Manusia modern kini cenderung memandangnya dari sisi sains. Dalam perkembangannya kini, para ilmuwan telah sampai temuan-temuan dalam fisika modern. Fisika modern ini ditandai dengan penemuan teori relativitas dan teori kuantum. Secara umum, fisika modern memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dan bersifat dinamis.[1] Fritjof Capra, sebagai seorang fisikawan, tertarik untuk melirik temuan-temuan dalam Fisika modern tersebut dan dikaitkan dengan mistisisme timur, yang salah satunya adalah tentang konsep Tao dalam Taoisme. Bahkan Capra dalam bukunya yang berjudul Tao of Physics bermaksud untuk menyingkap kesejajaran antara Fisika Modern dengan mistisisme timur. Oleh karenanya, penulis merasa tertarik untuk menelusuri pandangan-pandangan yang terdapat dalam Taoisme  yang ternyata telah menggugah Capra untuk memperbandingkannya dengan Fisika modern. Pada bagian pertama, penulis berfokus pada konsep-konsep dasar tentang alam dalam Taoisme. Kemudian akan dilanjutkan dengan pembahasan pemikiran Capra terkait dengan konsep-konsep yang ada dalam Taoisme, secara khusus pandangan tentang alam. Pada bagian akhir, penulis akan memberikan tanggapan kritis.

 

B. Konsep dasar tentang Alam dalam Taoisme

Nama taoisme itu sendiri berasal dari suatu gerakan para pengikut untuk mencari  Tao  atau jalan.[2] Jalan yang dimaksud  bukanlah suatu jalan hidup di dalam masyarakat manusia melainkan jalan tentang bagaimana alam semesta itu berjalan. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa Tao adalah tatanan alam. Hal ini ditunjukkan dalam Tao Te Ching (kanon tentang Keutamaan dari Tao) yang ditulis kurang lebih 300 SM. Pada umumnya, Tao Te Ching ini dianggap berasal dari Lao Tzu.[3] Filsafat dari Lao Tzu ini menekankan bahwa keberadaan manusia adalah untuk mengikuti alam dan dengan melakukannya, kedudukan manusia di alam tidak tersingkir melainkan justru hakikat alamnya itu terpenuhi.[4] Chuang Tzu (369-286 SM) kemudian muncul sebagai orang yang mengembangkan konsep Tao dari Lao Tzu.

Hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh tentang kehidupan Chuang Tzu. Ia hidup sebagai seorang pertapa.[5] Ia tingggal di sebuah daerah yang kini menjadi garis batas antara provinsi Shantung dan Honan. Ajaran-ajarannya dibukukan dan diberi judul Chuang Tzu. Kemungkinan  buku ini disusun oleh Kuo Hsiang pada abad ketiga sebelum masehi. Buku atau kitab itu sebetulnya lebih merupakan kumpulan tulisan-tulisan para Taois. Nama Chuang Tzu diambil karena lebih sebagai perwakilan dari fase akhir dari Taoisme awal yang mana pola pandangannya kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya.  

Selain itu, ada sedikit perbedaan  pandangan antara Lao Tzu dan Chuang Tzu.[6] Yang pertama, Tao dalam Lao Tzu itu masih berkenaan dengan keduniawian (worldly), tetapi Tao dalam Chuang Tzu   bersifat transendental. Yang kedua, Tao dalam Lao Tzu masih menekankan perbedaan antara kemuliaan dan kehinaan, kekuatan dan kelemahan, dsb. Sedangkan Chuang Tzu berusaha mengindentifikasikan semuanya. Berbeda pula dengan para Konfusianis yang menekankan  pada pemenuhan  kodrat seseorang dan pentranformasian lewat pendidikan, Chuang Tzu justru percaya pada soal memelihara alam, kembali ke kodrat, dan membiarkan transformasi itu berjalan dengan sendirinya.

Dalam hal ini menjadi jelas bahwa Chuang Tzu amat menekankan pandangannya tentang alam. Baginya, alam ini tidak hanya suatu spontanitas tetapi lebih dalam pengertian ‘selalu mengalir dan mengalami transformasi’. Alam adalah suatu proses universal yang mengabungkan segala sesuatunya dalam kesatuan (oneness) Dalam ini, ia juga berbicara tentang Yin dan Yang. Baginya, yin dan Yang mencerminkan satu sama lain, menyelubungi satu sama lain dan bereaksi satu sama lain. Empat musim memberi tempat bagi yang lain, menghasilkan satu dengan yang lain dan membawa bagi yang satu kepada yang lain sampai pada akhirnya.

Bagi Taois, alam bukan hanya tersatukan dan independen terhadap manusia. Alam itu cukup diri dan uncreated. Frase kuncinya adalah tzu-jan (bersifat spontan, self-originating, alami). Hal ini menunjukkan sisi afirmasi dasar atas naturalisme saintifik.  Para Taois kemudian memandang alam sebagai suatu organisme tetapi tanpa perlu merujuk pada dewa-dewi yang membuatnya ada dan berjalan seperti sekarang.[7] Dalam kitab Chuang-Tzu dituliskan sebagai berikut;

Dalam transformasi dan pertumbuhan segala sesuatu, setiap tunas dan batang punya bentuknya yang sesuai. Di sini kita mengamati perkembangan dan peluruhannya yang bertahap, aliran konstan transformasi dan perubahan.[8]

            Dalam Taoisme juga dikenal konsep wu-wei. Yang dimaksud dengan wu-wei bukanlah diam tidak bertindak, melainkan membiarkan segala sesuatunya berjalan secara alamiah.  Pandangan ini kurang lebih mau menunjukkan pada kenyataan alam dimana tanaman pun dapat bertumbuh dengan baik meski tanpa campur tangan manusia, ataupun bahwa manusia pun dapat bertumbuh tanpa campur tangan Negara. Dengan kata lain, tujuan konsep wu-wei ini bukanlah inactivity (tidak bertindak) melainkan harmoni dengan alam.[9]  Meskipun demikian, kemampuan untuk berlatih wu wei mengandung implikasi yakni belajar dari alam melalui observasi atau pengamatan.[10]

 

C. Titik Ketersingkapan: Pandangan Capra tentang Kesejajaran antara Sains Barat Modern dengan Taoisme

Dalam bukunya yang berjudul The Turning Point, Capra menunjukkan bahwa selama ini bagi Barat, kemajuan itu diukur dengan rasionalitas dan  intelelektualitas.[11] Dalam model pandangan tersebut, alam direduksi menjadi benda mati, terlebih bahwa Descartes berhasil menggagas ide mengenai alam yang mekanistik. Gagasannya mengenai alam ini didasarkan pada pemisahan mendasar atas dua wilayah yang independen, yakni wilayah pikiran (res cogitans) dan wilayah materi (res extensa). Pembagian semacam ini memungkinkan para ilmuwan memperlakukan materi sebagai barang mati dan terpisah sama sekali dari diri mereka, dan melihat dunia material sebagai kumpulan objek berbeda yang dirakit menjadi suatu mesin besar[12].

Apabila dibaca dalam kacamata Taoisme, maka akan tampak bahwa selama ini yang diunggulkan oleh masyarakat Barat  adalah aspek Yang (rasionalitas, agresivitas, maskulinitas, analisis) dalam evolusi sains dan sosial. Padahal dalam Taoisme sendiri, setiap realitas itu selalu ditempatkan dalam keberelasian antara aspek Yang dan Yin (kerjasama, sintesis, feminitas) secara bersamaan. Apabila aspek Yang telah sampai pada klimaksnya maka Yang akan mundur untuk kemudian memberi kesempatan pada Yin. Siklus yang semacam ini membuat kehidupan berjalan harmonis.[13]

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pola pikir Barat yang masih terkonsentrasi pada paradigma Cartesian-Newtonian (reduksionistik) telah terlalu berat sebelah dengan hanya menonojolkan rasionalitas dalam proses evolusi sains dan sosial. Paradigma tersebut menciptakan suatu pandangan mekanistik terhadap dunia. Pandangan tersebut berbeda dengan pangdangan Mistik Timur yang memandang dunia dalam cara pandang organik. Capra menunjukkan bahwa pandangan dunia mekanistik tersebut memang perlu ditinggalkan karena dewasa ini para ilmuwan telah sampai pada temuan-temuan fisika-fisika modern yang memandang alam semesta sebagai satu kesatuan tak terpisahkan dan bersifat dinamis. Lebih lanjut, Capra mengungkapkan bahwa konsepsi mekanistik ini tidak lagi memadai untuk fenomena fisis dalam dunia submikroskopik dan lebih memandang dunia secara organik. Menurutnya, pandangan terhadap dunia secara organik ini sejajar dengan pemikiran dalam mistisisme timur. Pandangan semacam ini muncul dalam tradisi-tradisi mistis dari keadaan kesadaran meditatif.[14]

Terkait dengan perubahan, para Taois berpandangan bahwa semua yang ada di alam semesta ini secara konstan selalu berubah.[15] Bahkan dapat dikatakan pula bahwa perubahan itu bersifat abadi dan dengan demikian realitas itu sendiri adalah suatu proses.[16] Pandangan semacam ini ternyata mirip dengan pemikiran di era post modern.  Salah satunya sebagaimana yang diungkapkan oleh Nicholas Rescer. Ia mengungkapkan bahwa dalam filsafat proses, alam dunia harus dimengerti dalam makna perubahan daripada dalam arti stabilitas yang sudah tidak dapat diubah-ubah. Padahal sejak  zaman Pythagoras, banyak filsuf meyakini bahwa fenomena dunia memang bisa berubah-ubah, sedangkan hukum-hukum yang mengatur perilaku dari perubahan tersebut bersifat stabil dan sudah baku untuk sekali dan seterusnya. [17] Bahkan Whitehead pun mengatakan secara lugas bahwa ide dasar dari pengertian ‘proses’ in mengandung makna yakni adanya perubahan berdasarkan mengalirnya waktu (temporal change) dan kegiatan yang saling berkaitan (interconnected activities).[18]  Kemudian realitas dipahami bukan sebagai sesuatu yang statis  melainkan terus bergerak dan berubah dalam suatu proses evolusi yang tak kunjung henti.[19]

Dalam konsep Taois tentang perubahan, perlu disadari bahwa perubahan ini tidak dipandang terjadi sebagai konsekuensi dari kekuatan tertentu. Konsep perubahan ini harus dipandang sebagai kecenderungan intrinsik dalam setiap benda dan situasi.[20] Pergerakan Tao ini tidak dipaksakan padanya, melainkan terjadi secara alamiah dan spontan (tzu-jan). Bagi Taois, bertindak selaras dengan alam berarti bertindak secara spontan  dan berdasarkan sifat hakiki seseorang. Hal ini mengandung implikasi pada sikap mempercayai kecerdasan intuitif seseorang, yang intrinsik dalam pikiran manusia seperti hukum-hukum perubahan melekat dalam semua benda di sekitar kita. Karenanya tindakan-tindakan orang bijak Taois muncul dari kebijakan intuitifnya, yakni secara spontan dan dalam keselarasan dengan lingkungannya. Sebagaimana yang dungkapkan Huai Nan Tzu, “Mereka yang mengikuti tatanan alam, mengalir dalam aliran Tao.”[21]

 

D. Tanggapan Kritis

            Apa yang dilakukan Capra ini memanglah suatu hal yang baru. Ia mencoba memadukan dan mensejajarkan temuan-temuan ilmiah dalam fisika modern dengan mistisisme timur terutama tentang konsep Tao dalam Taoisme. Kiranya yang perlu dipandang positif adalah pada usahanya untuk mengkritik pola pikir Barat yang mekanistik yang memandang alam sebagai benda mati sehingga menimbulkan krisis ekologi maupun moral. Berangkat dari temuan-temuan dalam fisika modern, ia kemudian menawarkan cara pandang baru yakni cara pandang terhadap dunia secara organik dan holistik  sebagaimana yang telah disadari oleh para mistikus timur. Meskipun demikian, tentunya tidaklah sebegitu sederhananya untuk menyejajarkan antara temuan dalam fisika modern yang jelas berangkat dari metode-metode saintifik dan ilmiah dengan mistisisme timur yang jelas bersifat spiritual. Capra tampaknya meloncat dari tataran ilmiah kemudian mencoba masuk ke dalam tataran spiritual. Walaupun demikian, Capra telah berupaya untuk menyadarkan akan pentingnya pandangan organik tentang alam sebagai sesuatu yang jangan diabaikan. Dalam hal ini, konsep alam dalam Taoisme turut menyumbangkan pemkiran yang berharga dalam memandang alam ini secara utuh/organik.

Daftar Pustaka:

Capra, Fritjof, The Tao of Physics (terj:  Aufiya Ilhamal Hafizh), Yogyakarta: Jalasutra, 2000

Capra, Fritjof, The Turning Point; Science, Society and The Rising Culture, London: Flamingo, 1984

Danardono, Dony, “Rasio yang Argumentatif-Komunikatif dan Intuisi yang Instruktif, dalam Menelusuri Jejak Capra, Yogyakarta: Kanisius, 2004

Fung Yu-Lan,  A history of Chinese Philosophy : vol. II, Princeton: Princeton University Press, 1973

Fung Yu-Lan,  A Short History of Chinese Philosophy, New York: Macmillan, 1966

Rescher, Nicholas,  Process Metaphysics: An Introduction to Process Philosophy, Albany, N.Y: State University of New York Press, 1996

Ronan, Colin A., The Shorter Science and Civilisation in China: Vol. I, Cambridge: Cambridge University Press, 1978

Sudarminta, J., Filsafat Proses: sebuah pengantar sistematik  filsafat Alfred North Whitehead, Yogyakarta: Kanisius, 1991

Wing-Tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, Princeton: Princeton University Press, 1963




[1] Fritjof Capra, The Tao of Physics (terj:  Aufiya Ilhamal Hafizh), Yogyakarta: Jalasutra, 2000, hal. 112.

[2] Colin A. Ronan, The Shorter Science and Civilisation in China: Vol. I, Cambridge: Cambridge University Press, 1978, page. 85

[3] Colin A. Ronan, Ibid., page.  87.

[4] Wing-Tsit Chan, A Source Book in Chinese Philosophy, Princeton: Princeton University Press, 1963, page. 137.

[5] Fung Yu-Lan, A Short History of Chinese Philosophy, New York: Macmillan, 1966, page. 104.

[6] Wing-Tsit Chan, Op.cit., page. 178.

[7] Colin A. Ronan, Op.cit., page 92.

[8] Wing-Tsit Chan, Op.cit., page 191.

[9] Colin A. Ronan, Op.cit., page 98.

[10] Colin A. Ronan, Ibid., page 98.

[11] Fritjof Capra, The Turning Point; Science, Society and The Rising Culture, London: Flamingo, 1984, page 26.

[12] Fritjof Capra, The Tao of Physics, (terj: Aufiya Ilhamal Hafizh), Yogyakarta: Jalasutra, 2000, hal. 11

[13] Dony Danardono, “Rasio yang Argumentatif-Komunikatif dan Intuisi yang Instruktif, dalam Menelusuri Jejak Capra, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hal. 52.

[14] Fritjof Capra, Op.cit, hal. 318.

[15] Fung Yu-Lan, A history of Chinese Philosophy : vol. II, Princeton: Princeton University Press, 1973, page. 213.

[16] Colin A. Ronan, Op.cit.,  page. 101.

[17] Nicholas Rescher,  Process Metaphysics: An Introduction to Process Philosophy, Albany, N.Y: State University of New York Press, 1996, page. 92.

[18] J. Sudarminta, Filsafat Proses: sebuah pengantar sistematik  filsafat Alfred North Whitehead, Yogyakarta: Kanisius, 1991, hal. 51.

[19] J. Sudarminta, Ibid., hal. 38.

[20] Capra, hal 113.

[21] Capra, hal. 114.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: