jump to navigation

dari Kritik Agama ke Kritik Masyarakat May 16, 2007

Posted by dirga primawan in artikel.
add a comment

 

Dari Kritik  Agama ke Kritik Masyarakat

 oleh B. Dirgaprimawan

Karl Marx memandang bahwa kritik agama haruslah sampai pula pada kritik masyarakat. Untuk memahami pemikiran Marx tersebut, kita berangkat dari pandangan Feueurbah tentang kritik agama. Bagi Feuerbach,  yang menjadi kenyataan akhir adalah objek-objek inderawi. Dengan pernyataan tersebut, Feuerbach hendak mengkritik Hegel. Menurut Hegel, manusia itu meskipun bebas tetap dikendalikan oleh roh semesta dan manusia tidak sadar bahwa mereka didalangi olehnya.  Menurut Feuerbach, yang nyata adalah manusia, sementara yang disebut roh semesta oleh Hegel adalah objek pikiran manusia. Dengan kata lain “Allah” yang oleh Hegel disebut sebagai roh semesta adalah pikiran manusia. Kritik ini berdasarkan pengandaian Feurbach bahwa realitas yang tak dapat disangkal adalah pengalaman inderawi dan bukan pikiran spekulatif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama merupakan proyeksi hakikat manusia dan dengan demikian agama mengungkapkan keterangsingan manusia dari dirinya sendiri. Dalam agama, manusia malah mengasingkan sifat-sifat itu pada Tuhan dengan memandangnya sebagai yang mahakuat, mahabaik dan bukannya berusaha untuk menjadi utuh dan sesempurna mungkin. Manusia lalu malah mengharapkan akan menerima kesempurnaan di surga. Lebih lagi, Feurbach melihat bahwa dengan agama, manusia lalu menjadi egois karena daripada mengembangkan potensi persahabatan dan cinta kasih, manusia justru mengasingkannya pada cinta kasih Ilahi. Agama menjadi proyeksi diri manusia dan karena itulah manusia mengalami keterasingan.

 Feuerbach melihat pula bahwa hakikat Allah ini tidak lain daripada hakikat manusia itu sendiri yang sudah dibersihkan dari macam-macam keterbatasan atau ciri individualnya dan kemudian dianggap sebagai sebuah kenyataan otonom yang berdiri di luar manusia.[1] Dengan kata lain, Allah adalah hasil proyeksi diri manusia. Manusia lalu menganggap bahwa hasil proyeksinya tersebut adalah sesuatu yang lain dari dirinya sendiri. Malahan kemudian manusia begitu terpesona dan merasakan bahwa hasil proyeksinya ini menghadapi dirinya sebagai objek sehingga manusia menempatkan dirinya lebih hina daripada hasil proyeksinya sendiri. Manusia justru mengharapkan bahwa ia akan mendapat berkah dari Allah yang tak lain daripada hasil proyeksinya sendiri.  Dengan kondisi semacam ini, manusia malah menjadi terasing dari dirinya sendiri, dari potensi-potensinya. Lebih lagi, Feurbach melihat bahwa dengan agama, manusia lalu menjadi egois karena daripada mengembangkan potensi persahabatan dan cinta kasih, manusia justru mengasingkannya pada cinta kasih Ilahi.[2] Agama menjadi proyeksi diri manusia dan karena itulah manusia mengalami keterasingan. Feurbach lalu menyimpulkan bahwa untuk mengakhiri keterasingan manusia, agama harus ditiadakan.

Namun Marx melihat bahwa sebetulnya agama bukan menjadi dasar penyebab keterasingan manusia. Agama hanyalah gejala sekunder dari keterasingan manusia.[3] Agama menjadi semacam pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri. Manusia lalu hanya dapat merealisasikan diri secara semu yakni dalam khayalan agama karena struktur masyarakat nyata tidak mengizinkan manusia merealisasikan diri dengan sungguh-sungguh. Karena dalam masyarakat nyata manusia menderita, manusia lalu mengharapkan mencapai keselamatan dari surga. Oleh karenanya, penyebab keterasingan yang utama haruslah ditemukan dalam keadaan masyarakat itu sendiri.[4] Dengan demikian, kritik jangan berhenti pada agama. Bagi Marx, kritik agama akan menjadi percuma saja karena tidak mengubah apa yang melahirkan agama. Marx berpandangan bahwa agama adalah produk dari kondisi sosial, maka agama tidak dapat ditiadakan kecuali dengan meniadakan bentuk kondisi sosial tersebut. [5]

Lebih jauh Marx bertanya: mengapa manusia sampai mengasingkan diri ke dalam agama? Marx melihat pertanyaan ini tidak dipersoalkan oleh Feuerbach karena “manusia” dipahami secara abstrak. [6] Seandainya manusia dipahami sebagai orang-orang konkret inderawi dalam masyarakat dan jaman tertentu tentunya persoalan tersebut telah terjawab. Dalam pandangan Marx, kondisi-kondisi materiallah yang membuat manusia mengalienasikan diri dalam agama. Yang dimaksud dengan kondisi material adalah proses-proses produksi atau kerja sosial dalam masyarakat.

Pertanyaan lebih lanjut. Apa yang perlu dikritik dalam masyarakat? Unsur macam apa yang dalam masyarakat yang mencegah manusia merealisasikan hakikatnya? Marx melihat bahwa keterasingan manusia dari kesosialannya haruslah ditemukan dalam struktur masyarakat.  Struktur masyarakat yang tidak memperbolehkan manusia bersikap sosial adalah struktur masyarakat  yang mana terjadi perpisahan antara civil society dan Negara. Dalam civil society, orang bergerak karena dimotori oleh kepentingan egoisme sendiri.[7] Kemudian negara dimunculkan sebagai kekuatan yang mengatasi egoisme individu-individu dan dimaksudkan untuk mempersatukan masyarakat.  Sebagai individu manusia itu egois, dan ia menjadi sosial karena harus taat kepada Negara. Jika manusia itu sosial dengan sendirinya, maka tidak perlu ada Negara yang mengaturnya. Dalam struktur masyarakat yang coba ia pahami, Marx melihat bahwa ternyata agama menjadi suatu produk dari sebuah masyarakat kelas. Agama kemudian ia  pandang sebagai produk keterasingan maupun sebagai ekpresi dari kepentingan kelas dimana agama dapat dijadikan sarana manipulasi dan penindasan terhadap kelas bawah dalam masyarakat.[8]

Selain itu, Marx menemukan bahwa keterasingan dasar manusia adalah keterasingannya dari sifatnya yang sosial. Tanda keterasingan tersebut adalah adanya eksistensi Negara sebagai lembaga yang dari luar dan atas memaksa individu-individu untuk bertindak sosial, padahal individu itu sendiri bertindak egois. Karenanya, Bagi Marx yang perlu dikritik adalah seluruh system yang memerlukan Negara, dan bukannya bentuk-bentuk kenegaraan.  Secara khusus Marx merumuskan tuntutan: “Kritik agama berakhir dengan ajaran bahwa manusia adalah mahluk tertinggi bagi manusia, jadi dengan imperatif kategoris untuk menumbangkan segala hubungan di mana manusia adalah makhluk yang hina, diperbudak, terlupakan, terhina” [ICHR, MEW 1, 385].[9]

 

 

 

 




[1] F. Budi Hardiman, 2004, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzche, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, hal. 229.

[2] Franz Magnis Suseno, 2000, Pemikiran Karl Marx, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,  hal. 77.

[3] Franz Magnis Suseno, 2000, Ibid., hal. 73.

[4] Franz Magnis Suseno, 2000, Ibid., hal. 73.

[5] Malcolm B. Hamilton, 1995, The Sociology of Religion, London: Routledge, p. 83.

[6] F. Budi Hardiman, 2004, Op.cit, hal. 237.

[7] Franz Magnis Suseno, 2000, Op.cit., hal. 78.

[8] Malcolm B. Hamilton, 1995, Op.cit., p.80.

[9] Franz Magnis Suseno, 2000, Op.cit., hal. 80.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.