jump to navigation

sains dan dunia modern May 3, 2007

Posted by dirga primawan in sains.
trackback

Hegemoni Fisika Klasik[1]

oleh B. Dirgaprimawan

Pengantar

Pada dasarnya, fisika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam yang mengkaji perilaku alam dan penyebabnya dengan rentang ukuran yang mahalebar (mulai dari yang paling kecil yakni atom sampai dengan jagat raya dalam ukuran kosmologis).[i] Di dalam fisika, penyelidikan mengenai perilaku alam ini terkait dengan hal-hal yang pada mulanya merupakan pertanyaan-pertanyaan metafisika, ontologi dan epistemologi.[2] Dalam hal ini, fisika semakin berkembang di atas gagasan Francis Bacon yang menekankan bahwa kesahihan dan nilai pengetahuan terletak di dalam penerapan praktis dan kegunaannya.[ii] Melalui pernyataan tersebut, Francis Bacon (1521-1626) membuka jalan bagi berkembangnya ilmu-ilmu empiris pada abad 16. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan (khususnya fisika) menjadi mungkin setelah Descartes berhasil menggagas ide mengenai alam yang mekanistik. Gagasannya mengenai alam ini didasarkan pada pemisahan mendasar atas dua wilayah yang independen, yakni wilayah pikiran (res cogitans) dan wilayah materi (res extensa). Pembagian semacam ini memungkinkan para ilmuwan memperlakukan materi sebagai barang mati dan terpisah sama sekali dari diri mereka, dan melihat dunia material sebagai kumpulan objek berbeda yang dirakit menjadi suatu mesin besar.[iii] Pada Descartes, alam beserta hukum-hukumnya sesudah diciptakan Tuhan berjalan sendiri seperti sebuah jam raksasa yang memperoleh intepretasi matematik dari karya Galileo, dan penjelasan hukum-hukumnya melalui teori universal gravitasi Newton.

Ada terminologi yang digunakan untuk melihat perkembangan fisika seturut dengan perkembangan gagasan. Fisika yang berkembang sejak era Descartes, Newton sampai dengan akhir abad -19 dinamakan fisika klasik. Para ahli fisika memakai istilah fisika modern untuk fisika abad ke -20, yang lahir sebentar sebelum abad ke-19. Fisika Modern ini ditandai dengan penemuan teori relativitas dan teori kuantum. Berikut ini, pembahasan akan difokuskan pada permasalahan fisika klasik yakni tentang hegemoni paradigma Cartesian-Newtonian beserta efek yang ditimbulkannya.

Hegemoni Fisika Klasik : Paradigma Cartesian-Newtonian

Yang dimaksud dengan paradigma adalah suatu pandangan-dunia (world view) atau cara pandang yang dianut secara pervasif dan di dalamnya terkandung asumsi-asumsi ontologis dan epistemologis tertentu, dan sistem nilai tertentu. Dalam paradigma, juga terdapat suatu kesadaran kolektif yang dianut bersama oleh suatu komunitas, dalam konteks ini adalah komunitas masyarakat modern. Dari pengertian di atas, dapat dilihat bahwa ada 2 komponen utama paradigma, yakni prinsip-prinsip dasar dan kesadaran intersubjektif. Prinsip-prinsip dasar adalah asumsi-asumsi teoretis yang mengacu pada sistem metafisis, ontologis dan epistemologis tertentu. Kesadaran intersubjektif adalah kesadaran kolektif terhadap prinsip-prinsip dasar itu yang dianut secara bersama sedemikan sehingga dapat melangsungkan komunikasi yang mempunyai frame of reference yang sama. Sebagai contoh, konsep progress (maju) dalam paradigma Cartesian-Newtonian berarti bertambahnya kepemilikan dan penguasaan manusia terhadap alam.[iv]

Dalam diktatnya yang berjudul Fisika Modern, Karlina Supelli menyebutkan bahwa ciri utama atau yang menonjol pada fisika klasik adalah penggunaan matematika dan eksperimen. Yang dimaksud ekperimen di sini adalah suatu usaha untuk mengetahui proses alamiah semu dalam situasi terkontrol, dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga perkembangan setiap tahap dapat diketahui dan dicatat hasilnya. Eksperimen juga dapat diulang setiap saat dengan hasil yang kurang lebih sama dengan catatan kondisi fisikanya tidak berbeda. Tokoh dominan dalam hal ini adalah Descartes dan Newton. Descartes dan Newton adalah dua tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sains dan peradaban modern. Dalam hal ini, Descartes berusaha untuk mematematisasi alam (mathematization of nature). Hal ini mendorongnya untuk berkesimpulan bahwa alam raya adalah sebuah mesin raksasa. Alam bekerja secara mekanistik. Karenanya, segala sesuatu dalam alam materi dapat diterangkan dalam pengertian tatanan dan gerakan dari bagian-bagiannya.

Newton (1642-1727) muncul sebagai pihak yang mampu menggabungkan visi rasionalisme Descartes dengan visi empirisme Francis Bacon[3] sehingga dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata melalui peletakan dasar-dasar mekanika. Pandangan Descartes mengenai dunia sebagai sebuah mesin besar yang terdiri dari materi dan gerak yang tunduk kepada hukum-hukum matematika ternyata divalidasi oleh Newton. Newton memandang ruang dan waktu bersifat otonom dan absolut, di luar manusia. Kedua hal ini harus diandaikan ada terlebih dahulu supaya dapat menjelaskan mengenai berbagai fenomena di alam sehingga dengan demikian, pandangannya yang mekanistik-deterministik juga berlaku. Ruang adalah wadah berdimensi tiga, tempat materi bergerak patuh di bawah kerja hukum-hukum deterministic, seperti hukum gravitasi. Sedangkan waktu adalah kontinum satu dimensi yang mengalir satu arah ke masa depan. Dengan pandangannya yang bersifat mekanistik, Newton mereduksi semua fenomena fisik menjadi gerak partikel benda, yang disebabkan oleh kekuatan tarik-menarik, kekuatan gravitasi.

Teori Newton juga melahirkan sistem mekanistik yang memungkinkan retrodiksi dan prediksi atas gejala amatan, baik di bumi maupun di langit. Dengan teori ini, dimungkinkan bagi manusia untuk meraih pengetahuan mengenai alam semesta yang dalam konsepsi Aristoteles dibagi atas wilayah fana dan wilayah kekal yang tak terjangkau oleh hukum-hukum alam. Teori Newton menggugurkan konsepsi Aristoteles tersebut. Newton mampu menunjukkan bahwa hukum-hukum mekanika yang ia temukan itu berlaku tanpa diskriminasi di atas seluruh alam semesta.[4] Hukum-hukum ini mampu menjelaskan hampir semua gejala. Dengan demikian, kosmos menjadi sebuah sistem rasional dimana struktur didalamnya terpahami dan dapat diwujudkan dalam sebuah model matematika. Dalam bukunya yang berjudul Principia (1687), ia mengatakan bahwa tugas filsafat (alam) adalah menyelidiki gaya-gaya alam melalui gerak, dan dari gaya-gaya itu menjelaskan gejala lainnya. Dengan begitu, Newton telah membingkai langit dan bumi dengan hukum-hukum yang dimengerti manusia untuk menyediakan sarana kepastian bagi manusia dalam menjelaskan gejala disekitarnya, memprediksikan gejala yang akan muncul di masa depan, mengontrol dan mengeksploitasi alam. Fisika lalu berfungsi untuk memberikan deskripsi, eksplanasi dan prediksi yang lugas terhadap alam. Newton berkesimpulan bahwa tidak ada ruang probabilitas dan misteri bagi fisika Newton.

Beberapa asumsi paradigma Cartesian-Newtonian

Ada 6 macam asumsi paradigma Cartesian-Newtonian yang dapat dilihat, yakni:[v]

1. Subjektivisme-Antroposentristik

Dalam hal ini, manusia dipandang sebagai pusat dunia. Descartes melalui pernyataanya cogito ergo sum, mencetuskan kesadaran subjek yang terarah pada dirinya sendiri, dan ini adalah basis ontologis terhadap eksistensi realitas eksternal di luar diri si subjek. Selain itu, subjektivisme ini juga tampak pada pandangan Francis Bacon mengenai dominasi manusia terhadap alam. Letak subjektivisme Newton ada pada ambisi manusia untuk menjelaskan seluruh fenomena alam raya melalui mekanika yang dirumuskan dalam formula matematika.

2. Dualisme

Pandangan mengenai dualisme ini tampak pada pemikiran Descartes. Dalam hal ini, realitas dibagi menjadi subjek dan objek. Subjek ditempatkan sebagai yang superiortas atas objek. Dengan ini, manusia (subjek) dapat memahami dan mengupas realitas yang terbebas dari konstruksi mental manusia. Subjek pun dapat mengukur objek tanpa mempengaruhi dan tanpa dipengaruhi oleh objek. Paham dualisme ini kemudian mempunyai konsekuensi alamiah dimana seolah-olah “menghidupkan” subjek dan “mematikan” objek. Hal didasarkan pada pemahaman bahwa subjek itu hidup dan sadar, sedangkan objek itu berada secara diametral dengan subjek, sehingga objek haruslah mati dan tidak berkesadaran.

3. Mekanistik-deterministik

Alam raya dipandang sebagai sebuah mesin raksasa yang mati, tidak bernyawa dan statis. Malahan, segala sesuatu yang di luar kesadaran subjek lalu dianggap sebagai mesin yang bekerja menurut hukum matematika yang kuantitatif, termasuk tubuh manusia.

Dalam pandangan mekanistik ini, realitas dianggap dapat dipahami dengan menganalisis dan memecah-mecahnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu dijelaskan dengan pengukuran kuantitatif. Hasil dari penyelidikan terhadap bagian-bagian yang kecil itu lalu digeneralisir untuk keseluruhan. Dengan demikian, keseluruhan itu berarti sama atau identik dengan penjumlahan atas bagian-bagiannya.

Pandangan yang deterministik juga tampak pada sikap dimana alam sepenuhnya itu dapat dijelaskan, diramal, dan dikontrol berdasarkan hukum-hukum yang deterministic (pasti) sedemikan rupa sehingga memperoleh kepastian yang setara dengan kepastian matematis. Dengan kata lain, masa depan suatu system, pada prinsipnya dapat diprediksi dari pengetahuan yang akurat terhadap kondisi system itu sekarang.[vi] Prinsip kausalitas pada dasarnya merupakan prinsip metafisis tentang hukum-hukum wujud. Determinisme ini juga didukung oleh Laplace. Ia mengatakan bahwa jika kita mengetahui posisi dan kecepatan setiap partikel di alam semesta, kita akan dapat/sanggup memprediksi semua kejadian pada masa depan.[vii]

4. Reduksionis

Dalam hal ini, alam semesta hanya dipandang sebagai mesin yang mati, tanpa makna simbolik dan kualitatif, tanpa nilai, tanpa cita rasa etis dan estetis. Paradigma ini memandang alam raya ( termasuk di dalamnya realitas keseluruhan) tersusun/terbangun dari balok-balok bangunan dasar materi yang terdiri dari atom-atom. Perbedaan antara materi yang satu dengan lainnya hanyalah soal beda kuantitas dan bobot. Selain itu, pandangan reduksionis ini berasumsi bahwa perilaku semua entitas ditentukan sepenuhnya oleh perilaku komponen-komponen terkecilnya.

Pada jaman phytagoras maupun Plato, matematika itu mempunyai symbol kualitatif. Namun pada masa modern ini, matematika hanya dibatasi pada soal numeric-kuantitatif, unsure-sunsur simbolik ditiadakan.

5. Instrumentalisme

Focus pertanyaan di sini adalah menjawab soal ‘bagaimana’ dan bukan “mengapa”. Newton bersikukuh dengan teori gravitasi karena ia sudah dapat merumuskannya secara matematis meskipun ia tidak tahu mengapa dan apa penyebab gravitasi itu. Yang lebih penting menurutnya adalah dapat mengukurnya, mengobservasinya, membuat prediksi-prediksi berdasarkan konsep itu, daripada soal menjelaskan gravitasi.

Modus berpikir yang instrumentalistik ini tampak pada kecondongan bahwa kebenaran suatu pengetahuan atau sains itu diukur dari sejauh mana hal itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan/kepentingan material dan praktis. Semuanya diarahkan pada penguasaan dan dominasi subjek manusia terhadap alam.

6. Materialisme-saintisme

Saintisme adalah pandangan yang menempatkan metode ilmiah eksperimental sebagai satu-satunya metode dan bahasa keilmuan yang universal sehingga segala pengetahuan yang tidak dapat diverifikasi oleh metode tersebut dianggap tidak bermakna. Pada Descartes, Tuhan itu bersifat instrumentalistik karena sebagai penjamin kesahihan pengetahuan subjek terhadap realitas eksternal. Pada Newton, Tuhan hanya diperlukan pada saat awal pencitpaan. Tuhan menciptakan partikel-partikel benda, kekuatan antar partikel, hukum gerak dasar, dan sesudah tercipta lalu alam ini terus bergerak seperti sebuah mesin ayng diatur oleh hukum-hukum deterministic.

Bagi kaum materialis, pada prinsipnya setiap fenomena mental manusia dapat ditinjau dengan menggunakan hukum-hukum fisikal dan bahan-bahan mentah yang sama, yang mampu menjelaskan fotosintesis, nutrisi, dan pertumbuhan.

Hegemonisasi Paradigma Cartesian-Newtonian terhadap Disiplin Ilmu yang Lain

Di bawah ini, akan dipaparkan beberapa bidang studi yang terpengaruh oleh paradigma Cartesian-Newtonian. Yang pertama adalah biologi. Biologi adalah sains yang berurusan dengan fenomena-fenomena hayati pada organisme hidup. Sains ini memuat pandangan Cartesian bahwa binatang atau tubuh organisme hidup adalah seperti sebuah mesin yang lebih rumit dan kompleks.[viii] Dengan kata lain, tidak ada perbedaan esensial antara mesin dengan organisme kecuali dalam tingkat kerumitannya. Dengan pandangan semacam ini, sebuah organisme lalu diperlakukan seperti mesin yang dapat dipotong-potong atau dilepas bagian-bagiannya satu persatu, dan kemudian dianalisis satu demi satu untuk dapat digabungkan lagi.

Selain itu di bidang teori evolusi, semakin tampak jelas adanya paradigma Cartesian. Darwin menstransformasikan pernyataan Cogito Ergo Sum menjadi pernyataan mengenai survival of the fittest. Aku bertahan hidup maka aku ada. Aku beradaptasi maka aku ada. Ilmu biologi juga semakin berkembang dan dikatikan dengan ilmu-ilmu sosial sehingga melahirkan ilmu sosiobiologi. Pada bidang ini, terjadi reduksi dimana perilaku sosial lalu dilihat semata-mata sebagai variable dari faktor-faktor biologis dan genentis. Di bidang kedokteran pun juga tampak adanya paradigma Cartesian-Newtonian yang berifat mekanistik-reduksionistik. Tubuh manusia lalu dipandang seperti mesin yang mana ada bagian-bagian tertentu yang perlu diperbaiki. Dalam hal ini manusia tidak dilihat lagi sebgai manusia yang utuh dan holistik. Praktek-praktek kedokteran hanya berfokus pada tubuh manusia semata tanpa dikaitkan dengna jiwa dan pikirannya maupun dengan lingkungan sosialnya.

Paradigma Cartesian-Newtonian juga terdapat dalam ilmu psikologi. Sebagai contohnya adalah para kaum behavioris yang memandang bahwa manusia tak ubahnya seperti hewan atau robot dimana segenap perilakunya dapat diatur dan dikontrol oleh lingkungan eksternal dengan penelitian S-R (stimulus-respons). B.F. Skinner bahkan mengemukakan 3 macam asumsinya yang terkenal, yakni: yang pertama, perilaku (manusia) itu mengikuti hokum tertentu; yang kedua, perilaku itu dapat diramalkan/diprediksi; yang ketiga, perilaku itu dapat dikontrol.[ix]

Dalam bidang sosiologi pun juga ditemukan paradigma Cartesian-Newtonian. August Comte sebagai salah seorang tokoh positvisme meyakini bahwa penemuan hukum-hukum alam akan membukakan batas-batas yang pasti yang melekat dalam kenyataan sosial. Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang pada kenyataannya melebih sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Untuk memahami kenyataan ini, metode penelitian empiris perlu digunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat adalah suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik. [x]Sosiologi positivistik ini pun kerap dijuluki sebgai fisika sosial karena asumsi dan metode yang diterapkan mencontoh fisika mekanistik.

Penutup

Dari uraian sebelumnya, dapat dilihat bahwa ternyata paradigma Cartesian-Newtonian ini memperlakukan manusia dan alam keseluruhan seperti mesin besar yang diatur menurut hukum-hukum objektif, mekanis, deterministik, linier, reduksionis dan materialistik. Paradigma ini telah mengisolasi dan mendistorsi keanekaragaman dan dinamika realitas. Dengan paradigma yang semacam ini pula, realitas alam yang plural, dan saling terkait satu sama lain menjadi tidak dapat dipersepsi. Menurut Fritjof Capra, cara pandang yang semacam ini pada tataran praktis telah melahirkan berbagai krisis global, seperti krisis ekologis, dehumanisasi, dan konflik-kekerasan yang akut. Sedangkan pada tataran teoretis, paradigma Cartesian-Newtonian tidak mampu lagi memberi penjelasan terhadap fenomena-fenomena dari sains mutakhir seperti relativitas dan teori kuantum.[xi] Oleh karenanya, diperlukan sebuah paradigma baru, visi baru tentang realitas bagi masyarakat modern saat ini untuk menyelamatkan masa depan peradaban dengan visi yang lebih baik, yang lebih manusiawi, dan tidak melupakan ekologi.

***

 


[1] Makalah disusun untuk studi bersama Komunitas Wisma Dewanto pada hari Selasa, 15 November 2005

[2] Istilah ‘fisika’ diturunkan dari kata Yunani (physis), yang artinya ikhtiar untuk melihat hakikat dasar dari segala sesuatu. Akar-akar fisika dapat ditemukan dalam periode pertama filsafat Yunani pada abad ke-6 SM, yakni pada Mazhab Miletos di Ionia. Para filsuf Miletos pada jaman tersebut berusaha menemukan hakikat dasar atau realitas nyata benda-benda. Sebagai contoh, Thales (624-546 SM) mengemukakan bahwa hakikat dasar realitas adalah air. Air berperan sebgai asal semua perubahan. Menurutnya, air dapat diubah menjadi udara (uap air) dan dibekukan menjadi padat (es). Sesudahnya muncul tokoh-tokoh lain yang menyanggah pernyataan dari tokoh sebelumnya. Diantaranya adalah Anaximandros, Anaksimenes, Herakleitos, Empedokles, Anaksagoras, Demokritos, Aristoteles. Lih. Hans J. Wosparik, Dari Atomos hingga Quark, Jakarta: Gramedia, 2002, hal 10.

[3] Sebagai seorang tokoh revolusi Ilmiah, Francis Bacon mengintroduksi metode ekperimental dalam metode keilmuan. Ia menekankan metode induksi-empirik. Metode ini dijadikan sebagai satu-satunya metode ilmiah yang sah dalam pengembangan ilmu. Lebih tegas, Francis Bacon menyatakan Knowledge is power. Ia memandang ilmu sebagai alat yang menjadikan manusia sebagai penguasa dan pemilik alam.[3] Baginya, ilmu hanya bermakna apabila dapat diterapkan secara praktis. Ia menjadi popular dengan sikapnya yang pragmatis-fungsional terhadap ilmu. Menurutnya, ilmu hanya bermakna apabila dapat diterapkan secara praktis. (lih. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzche, Jakarta; Gramedia, 2004, hal. 27)

[4] Newton mengemukakan tiga hukum gerak benda yang menggambarkan bagaimana berbagai macam objek berinteraksi ketika objek-objek tersebut bertumbukan satu sama lain dalam dunia sehari-hari. Hukum pertama berbunyi “sembarang objek akan diam di tempatnya, atau bergerak dalam lintasan lurus dengan kelajuan konstan, kecuali bila objek itu dikenai suatu gaya. Hukum kedua mengatakan bahwa ketika sebuah gaya bekerja pada sebuah benda, percepatan yang dihasilkannya sebanding dengan gaya yang diberikan dibagi dengan massa dari benda itu. Hukum yang ketiga adalah bahwa untuk setiap aksi terdapat reaksi yang sama besar dan berlawanan arahnya. (lih. John Gribbin, Fisika Kuantum: panduan bagi pemula ke dunia subatomik, Jakarta: Erlangga, 2002, hal. 7-8.)


[i] Hans J. Wosparkrik, Dari Atomos hingga Quark, Jakarta: Gramedia, 2002, hal. XXXIV.

[ii] Frederick Copleston, A History of Philosophy Volume III, New York: Doubleday, 1993, page. 293.

[iii] Fritjof Capra, The Tao of Physics, (terj: Aufiya Ilhamal Hafizh), Yogyakarta: Jalasutra, 2000, hal. 11.

[iv] Husain Heriyanto, Paradigma Holistik, Bandung: Teraju, 2003, hal. 29-30.

[v] Husain Heriyanto, Ibid., hal. 43-52.

[vi] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2000, hal. 146.

[vii] Fritjof Capra, The Tao of Physics, (terj: Aufiya Ilhamal Hafizh), Yogyakarta: Jalasutra, 2000, hal. 50.

[viii] Husain Heriyanto, Paradigma Holistik, Bandung: Teraju, 2003, hal. 66.

[ix] Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, Introduction to Theories of Personality, New York:, 1978, page. 464-465.

[x] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, (terj: Robert M.Z. Lawang), Jakarta: Gramedia, 1988, hal. 82.

[xi] Husain Heriyanto, Op.cit., hal. 6.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: